INDORAYATODAY.COM, KOTA BEKASI – Kebocoran pipa gas di kawasan Perumnas I, Bekasi Barat, tak hanya menimbulkan gangguan teknis dan kekhawatiran keselamatan. Insiden tersebut juga berdampak langsung pada kehidupan ratusan keluarga yang kehilangan akses memasak di rumah.

Sejak pasokan gas terganggu, banyak warga terpaksa membeli makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu membuat pengeluaran rumah tangga meningkat dan memicu keluhan dari masyarakat terdampak.

Salah seorang warga, Musniar Yahya, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar karena tidak dapat memasak seperti biasa.

“Biasanya kami memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran. Sekarang gas mati, mau tidak mau harus beli makanan di luar. Pengeluaran jadi bertambah,” ujarnya, Sabtu (30/5/2026).

Bagi sebagian keluarga, kondisi tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama di tengah tekanan ekonomi dan kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.

Warga menilai mereka menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari kebocoran pipa tersebut, meski tidak terlibat dalam insiden yang terjadi.

“Kami tidak peduli siapa yang salah. Yang kami rasakan hari ini adalah tidak bisa memasak dan harus mengeluarkan uang lebih untuk makan. Siapa yang bertanggung jawab atas kerugian warga?” keluh seorang warga lainnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, kebocoran terjadi di depan Perumnas I, Bekasi Barat, pada Jumat (29/5/2026).

Komandan Pleton 6 Kompi C Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Muhammad Syaifulloh, mengatakan laporan pertama diterima sekitar pukul 14.40 WIB.

Awalnya petugas menduga semburan yang muncul berasal dari pipa PDAM karena air menyembur hingga beberapa meter ke permukaan jalan.

Namun setelah dilakukan pengecekan bersama sejumlah pihak, diketahui sumber masalah berasal dari pipa gas.

“Awalnya dikira pipa PDAM karena air terus menyembur. Setelah dicek lagi ternyata pipa PGN,” kata Syaifulloh.

BACA JUGA:  Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin Beri Wawasan Pemerintahan ke Pelajar SD

Ia menjelaskan dugaan sementara kebocoran dipicu aktivitas proyek galian di sekitar lokasi yang menggunakan alat berat.

Petugas kemudian melakukan sterilisasi area guna mengantisipasi potensi kebakaran maupun ledakan akibat gas yang keluar dari pipa.

“Kita sterilkan lokasi, jangan sampai ada warga yang merokok. Bau gas tercium sampai sekitar 20 meter,” ujarnya.

Warga Minta Kepastian dan Tanggung Jawab

Warga berharap perbaikan dapat segera diselesaikan sehingga pasokan gas kembali normal. Mereka juga meminta penjelasan mengenai waktu pemulihan layanan serta bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat yang terdampak.

Warga lainnya, Asep Supriadi, menilai gangguan layanan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat tidak bisa dianggap sebagai persoalan teknis biasa.

Menurut dia, ketika ribuan warga kehilangan akses energi rumah tangga, persoalan tersebut sudah menjadi bagian dari pelayanan publik yang harus ditangani secara serius.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu kepastian kapan aliran gas dapat kembali normal. Sementara itu, banyak dapur rumah tangga terpaksa berhenti beroperasi dan keluarga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. ***