INDORAYATODAY.COM – Ribuan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara memadati kompleks Surau Qutubul Amin, Bojongsari, Depok, dalam rangka peringatan Hari Guru atau Hari Silsilah Kemursyidan Prof. Dr. Maulana Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya ke-108, Jumat (20/6).

Hadir dalam ziarah akbar tersebut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan (Menko PMK) Abdul Muhaimin Iskandar.

Kehadiran tokoh nasional yang akrab disapa Gus Muhaimin itu berlangsung tanpa penyambutan protokoler khusus, mencerminkan kesederhanaan dan kekhidmatan acara yang sarat nilai spiritual.

Ketua Panitia Erik Romando Rozas menyampaikan bahwa jemaah datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Bahkan, jemaah dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat juga turut hadir.

“Rombongan terbesar berasal dari Jawa Timur dengan 30 bus dari 45 majelis surau. Ada yang datang naik kereta, pesawat, hingga kendaraan pribadi. Hampir semua wilayah mengirimkan jemaah,” ujar Erik.

Prosesi peringatan digelar di Pendopo Agung Qutubul Amin dan diawali dengan adzan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta marhaban.

Acara berlangsung dengan penuh kekhusyukan, menjadi momen tahunan penting bagi para murid tarekat untuk mengenang dan mendoakan sang mursyid besar.

Ketua Majelis Surau Qutubul Amin, H. Suroso Surya Atmadja, menjelaskan bahwa Hari Guru ini telah diperingati setiap 20 Juni sejak tahun 1999, berdasarkan amanah langsung dari Syaikh Kadirun Yahya semasa hidupnya.

“Sejak Ayahanda Guru hijrah dari Medan ke Arco, Depok, beliau menetapkan Hari Guru sebagai momentum ziarah akbar tahunan bagi murid-murid tarekat,” jelasnya.

Peringatan ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap silsilah keilmuan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Sayyidina Abu Bakar.

BACA JUGA:  Kapolres Metro Depok Minta Pelajar Jauhi Tawuran: Bahagiakan Orang Tua dengan Prestasi

Syaikh Kadirun Yahya sendiri diakui sebagai ahli silsilah ke-35 oleh guru-guru tarekat di Makkah pada tahun 1952.

Tokoh sufi kelahiran Padangsidempuan, Sumatera Utara, pada 20 Juni 1917 ini dikenal tidak hanya sebagai ulama tasawuf, tetapi juga sebagai ilmuwan fisika atom.

Ia disebut berhasil merumuskan pendekatan ilmiah terhadap praktik tasawuf dan spiritualitas, serta dikenal karena jasanya meredam letusan Gunung Galunggung pada 1982 melalui pendekatan Teknologi Al-Qur’an.

Sepanjang hayatnya, Syaikh Kadirun Yahya mendirikan lebih dari 700 surau atau majelis dzikir di dalam dan luar negeri.

Kini, Surau Qutubul Amin di Depok menjadi pusat kegiatan suluk bulanan yang diikuti jemaah dari berbagai daerah dan negara.

Dalam ziarah tersebut, Gus Muhaimin turut didampingi sejumlah tokoh nasional dan keluarga besar Syaikh Kadirun Yahya, antara lain Erlina KY (istri almarhum), Raden Novendy Achmad Hadiawan (pimpinan Zhahiriyah), Irjen Pol (Purn) Istiono, Ir. Sinar Yudha (Ketua Yayasan SQA), serta para purnawirawan TNI/Polri seperti Mayjen TNI (Purn) Musa Bangun dan Brigjen Pol Eko Nugrohadi.[]