INDORAYATODAY.COM – Keloid adalah bekas luka yang tumbuh melampaui batas, seringkali meninggalkan cekungan rasa percaya diri pada pemiliknya.
Keloid, jenis jaringan parut menonjol yang ukurannya bisa lebih besar dari luka asalnya, kini mendapat sorotan penanganan medis.
Dr. Narottama Tunjung Hariwangsa, Sp. BP-RE, Subsp. LBL(K), Spesialis Bedah Plastik Eka Hospital Depok, menegaskan, kondisi ini memang jarang hilang dengan sendirinya, namun tidak perlu dibiarkan.
Persoalan utama keloid terletak pada proses penyembuhan kulit yang kelebihan produksi kolagen. Normalnya, kolagen adalah “tambalan” alami kulit, tetapi saat tubuh memproduksi tambalan itu terlalu banyak, muncullah keloid.
Walaupun tak diketahui pasti pemicunya, dr. Narottama menyebutkan riwayat keluarga dan infeksi luka berperan besar.
Bekas luka yang berubah menjadi keloid mudah dikenali: bentuknya bisa bulat atau lonjong, menonjol tegas, dan warnanya lebih gelap, seperti ungu atau cokelat. Sejumlah penderita bahkan merasakan sensasi gatal atau terbakar ketika keloid itu membesar.
Keloid bisa bermula dari luka apa saja—mulai dari jerawat, bekas tindikan, gigitan serangga, hingga luka operasi. Area yang paling sering menjadi peta kemunculannya adalah perut, punggung, dada, bahu, rahang, dan telinga. Paparan sinar matahari memperparah tampilan keloid, membuatnya makin menghitam, sementara pertumbuhan yang terus-menerus bisa memicu rasa sakit dan infeksi.
Penanganan Tanpa Pisau Bedah
Penanganan keloid tidak selalu berakhir di meja operasi. Dokter dapat mengobatinya dengan berbagai cara non-bedah, termasuk injeksi obat, laser, krioterapi (memanfaatkan energi dingin), hingga radioterapi. Tindakan operasi baru diambil jika keluhan tidak mereda, khususnya untuk keloid berukuran besar.
“Meskipun seseorang punya ‘bakat’ untuk mengalami keloid lagi di kemudian hari, keloid dapat diobati dengan teknik pembedahan yang mutakhir dan tepat,” ujar dr. Narottama.
Bagi mereka yang memiliki kecenderungan ini, pencegahan adalah benteng terkuat. Langkahnya sederhana: menghindari tindik atau tato, mencegah luka dengan alat pelindung, serta merawat luka sesuai anjuran dokter—termasuk menggunakan perban silikon gel dan tabir surya untuk mencegahnya menghitam.
Dokter Narottama memperingatkan: jangan coba-coba mengobati keloid sendiri. Kesalahan penanganan justru berpotensi menimbulkan keloid baru, menjadikannya masalah yang berulang. Konsultasi dengan dokter spesialis bedah plastik menjadi keharusan.

Tinggalkan Balasan