INDORAYATODAY.COM – Kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Sugiono, ke Korea Utara (Korut) pada 10-11 Oktober lalu untuk menghadiri parade militer menuai sorotan dari Korea Selatan (Korsel).
Kunjungan pejabat tinggi Indonesia ke Pyongyang ini merupakan yang pertama dalam 12 tahun terakhir dan menimbulkan kekhawatiran Seoul terkait potensi pelanggaran teknologi sensitif.
Menlu Sugiono bertemu dengan mitranya dari Korut, Choe Son Hui, di Pyongyang pada 11 Oktober. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang Pembentukan Konsultasi Bilateral.
MoU ini memperbarui mekanisme konsultasi yang bertujuan memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk politik, sosial budaya, teknis, dan olahraga.
Para pengamat di Korsel secara khusus mencermati kerja sama di bidang teknis. Kekhawatiran muncul mengingat status Indonesia sebagai salah satu mitra pertahanan utama Korsel dalam proyek jet tempur canggih KF-21.
Pembaruan hubungan diplomatik dengan Pyongyang dikhawatirkan dapat membocorkan teknologi sensitif proyek tersebut.
Proyek jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae, yang diluncurkan bersama pada 2015, memang kerap diwarnai isu kerahasiaan data. Meskipun pejabat Korsel meyakinkan bahwa data KF-21 dilindungi berdasarkan perjanjian rahasia, kekhawatiran publik muncul berdasarkan catatan masa lalu, termasuk skandal upaya pengambilan data rahasia oleh insinyur Indonesia tahun lalu.
Selain isu kerahasiaan, proyek KF-21 juga menghadapi penundaan karena penyesuaian kontribusi pendanaan dari Indonesia.
Indonesia, yang awalnya berkomitmen mendanai sekitar 20 persen proyek, kini sepakat mengurangi kontribusi menjadi sekitar 600 miliar won dari jumlah awal, dengan konsekuensi transfer teknologi yang lebih sedikit.
Para pengamat di Negeri Gingseng mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan yang kuat menyusul kembali terjalinnya hubungan diplomatik antara Jakarta dan Pyongyang.

Tinggalkan Balasan