DEPOK, INDORAYA TODAY – Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 13 Depok, Farida Nurbaiti, membantah keras telah mengancam sejumlah wartawan yang meliput di kantornya terkait program lingkungan hidup. Bantahan ini disampaikan Farida saat dipanggil oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok untuk dimintai klarifikasi.

Pemanggilan Farida Nurbaiti ini dilakukan Disdik Depok, menyusul munculnya kabar bahwa sang Kepsek melontarkan kalimat bernada ancaman kepada awak media yang menanyakan program penukaran minyak jelantah dan penghijauan sekolah pada Rabu (29/10/2025).

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Depok, Muhammad Yusuf, membenarkan pemanggilan tersebut. Berdasarkan keterangan Farida, ia menegaskan bahwa kalimat kontroversial yang diduga ancaman itu bukan ditujukan kepada wartawan.

“Perihal kalimat ancaman, menurut keterangan Kepala Sekolah, itu ditujukan kepada dirinya sendiri,” ujar Yusuf saat ditemui di Balai Kota Depok, Kamis (30/10/2025).

Yusuf menambahkan, Farida sama sekali tidak berniat melontarkan ancaman terhadap sejumlah wartawan yang bertanya soal program edukasi lingkungan tersebut. “Jadi ngga ada maksud untuk mengancam ya,” tegasnya.

Program pengelolaan minyak jelantah di SMPN 13 Depok belakangan ini menjadi sorotan. Program tersebut melibatkan penukaran minyak jelantah siswa dengan minyak goreng baru, di mana minyak jelantah yang terkumpul kemudian dijual. Dana hasil penjualan tersebut dialokasikan untuk pembelian pot tanaman dalam rangka upaya penghijauan sekolah.

Saat ditanya perihal program ini, Yusuf mengajak semua pihak mendukung dan mengawal pelaksanaannya, menilai program ini penting untuk mengedukasi siswa ihwal pelestarian lingkungan.

Sebelumnya, Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 13 Depok, Farida Nurbaiti, melontarkan kalimat bernada ancaman kepada sejumlah wartawan yang meliput di kantornya pada Rabu (29/10/2025). Ancaman tersebut disampaikan saat wartawan menanyakan program sekolah terkait output dari penukaran minyak jelantah dengan minyak goreng baru bagi siswa.

BACA JUGA:  Wawali Kota Bogor Minta Perkuat Patroli dan Respons Aduan Masyarakat

Perbincangan bermula ketika Farida meminta agar isu penghijauan sekolah tidak diberitakan.

“Soal penghijauan untuk tidak dinaikkan, oke?” ujar Farida dengan nada tinggi.

Saat salah satu wartawan menegaskan bahwa pemberitaan yang positif tidak akan menjadi masalah, Farida secara langsung mengeluarkan ancaman.

“Kalau diberitai, ya ‘Wasallam’ kalian,” kata Farida, merujuk pada kemungkinan dampak buruk jika pemberitaan tetap dilakukan.

Wartawan lantas mencoba meluruskan bahwa tujuan pemberitaan adalah untuk mengangkat sisi positif dari program pelestarian lingkungan. Farida khawatir pemberitaan akan “ramai” dan membuat sekolahnya menjadi sorotan, bahkan didatangi banyak pihak.

Dalam sesi tanya jawab tersebut, Farida menonjolkan program pengelolaan minyak jelantah di SMPN 13 Depok. Ia menyebut program ini sebagai upaya edukasi penting bagi siswa.

“You kalau mau ngejar gue, sekarang minyaknya aja masih ada,” tantang Farida.

Ia menjelaskan bahwa program tersebut masih dalam tahap awal dan belum mencapai satu siklus penuh, terutama untuk isu yang berkaitan dengan penukaran minyak jelantah dengan minyak goreng, yang kemudian dikaitkan dengan penghijauan sekolah.

“Kalau sudah satu siklus beres, jelas. Ntar ada yang bilang itu penghijauan. Orang datang kesini nanya mana penghijauannya, gue harus nerangin lagi gitu?,” jelasnya.

Farida menekankan bahwa fokus utama program adalah edukasi kepada anak-anak tentang bahaya minyak jelantah bagi kesehatan.

Meskipun demikian, Farida menjamin bahwa tim penghijauan dan zero waste sekolah sudah terbentuk, meski dana untuk pelaksanaannya belum sepenuhnya ada.

“Yakinkan. Kami punya tim penghijauan, tim zero waste ada. Timnya masing-masing duitnya aja belom kok. Pasti adalah, saya yakinkan itu. Saya jamin,” tuntas Farida.