NEPAL, INDORAYA TODAY – Nepal, Pegunungan Himalaya yang membentang di Asia Tengah mempunyai daya tarik petualangan mengasyikkan. Ketika ada kesempatan mengunjungi Nepal, mid November 2025 lalu saya tak bisa menolak magnet ajakan ke Annapurna Base Camp. Saya bersama Umi Kalsum Ph.D dan Rengga Satria, memutuskan mencoba menjejakkan ke atap dunia di Nepal.

Annapurna Base Camp Trek (ABC Trek) membawa Anda jauh ke jantung Himalaya di Nepal utara-tengah. Dengan ketinggian 4.130 meter, Annapurna Base Camp menyajikan panorama 360 derajat puncak-puncak menjulang, termasuk Annapurna I (puncak tertinggi ke-10 di dunia dengan ketinggian 8.091 m), Annapurna Selatan, Machhapuchhre, dan Hiunchuli. Tidak seperti base camp besar lainnya, base camp ini terletak unik di cekungan gletser yang dikelilingi pegunungan setinggi lebih dari 7.000 meter, menciptakan amfiteater yang memukau dengan puncak-puncak bersalju dan medan yang terjal.

Perjalanan Annapurna Base Camp bertransisi dari terasering pertanian dataran rendah ke hutan lebat, dan akhirnya ke dataran tinggi pegunungan Alpen. Pergeseran geografi yang bertahap ini memungkinkan Anda untuk merasakan keanekaragaman hayati Nepal yang luar biasa dan perpaduan unik antara pemandangan, iklim, dan budaya.

Petualangan dimulai dengan perjalanan indah dari Pokhara ke Nayapul, wilayah subtropis yang hangat dengan ciri khas sawah terasering dan desa-desa tradisional Gurung. Saat jalur menanjak menuju Tikhedhunga dan Ghorepani, Anda akan melewati hutan rhododendron dan ek yang lebat, menciptakan pengalaman trekking yang kaya dan semarak. Hutan-hutan ini memberikan keteduhan dan suhu yang lebih sejuk, terutama selama bulan-bulan pra-musim hujan.

Salah satu momen paling terkenal dari pendakian ini adalah perjalanan singkat ke Bukit Poon (3.210 m), yang menawarkan matahari terbit yang menakjubkan di atas Himalaya. Anda akan bangun pagi-pagi di Ghorepani untuk pendakian sebelum fajar, dan tiba di titik pengamatan tepat waktu. Pemandangan membentang dari Annapurna Selatan, Machhapuchhre, Dhaulagiri, dan Nilgiri, menjadikannya salah satu momen matahari terbit paling ikonis di Nepal. Warna jingga dan merah muda cerah yang terpantul di puncak bersalju menciptakan pengalaman magis dan tak terlupakan.

BACA JUGA:  Taiwan Belajar dari Depok, Posyandu Nusa Indah Jadi Rujukan Pemberdayaan Lansia

Pengalaman ke tanah tertinggi di atas 4000mdpl ini, kali ketiga yang saya alami setelah ke Puncak Jayawijaya dan Carstensz Pyramid di Papua, Indonesia beberapa tahun lalu.

Udara tipis dan cuaca sedingin es, memaksa tubuh menyesuaikan dengan kondisi alam. Langkah kaki terasa berat nafas tak lagi leluasa, memaksakan diri mempercepat kegiatan fisik malah berakibat fatal yang berujung Acute Mountain Sickness (AMS).

Saya merasakan AMS ini merayap dari ujung kaki perlahan naik ke paru-paru, membuat aktifitas rutin bernafas bagai kegiatan angkat beban. Jika sudah merasakan hal seperti itu, obat paling mujarab adalah kembali turun ke dataran rendah. (Hendrata Yudha Ph.D)