INDORAYATODAY.COM – Isu sengketa lahan kembali menjadi sorotan nasional setelah Aktivis sosial politik, Nicho Silalahi, menyoroti konflik agraria yang mendera warga di Lapak Kampung Periuk, Cilegon, Banten.

Kasus ini melibatkan lahan seluas kurang lebih 11 hektare dan semakin memanas dengan munculnya dugaan praktik mafia tanah.

Nasib ratusan warga yang berprofesi sebagai pemulung dan buruh harian lepas, yang telah mendiami lahan eks kuburan China tersebut selama 20 hingga 40 tahun, sempat berada di ujung tanduk karena ancaman penggusuran.

Namun, situasi mulai berubah drastis berkat intervensi dari pimpinan parlemen. Intervensi Politik dan “Operasi Senyap” Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dipastikan turun tangan dalam sengketa lahan ini.

Langkah yang diambil pimpinan parlemen tersebut dinilai menjadi benteng perlindungan terakhir yang berhasil meredakan kecemasan warga.

Menurut Nicho Silalahi, Dasco Ahmad mengambil tindakan konkret yang langsung menyentuh akar permasalahan di lapangan, jauh dari sorotan publik.

“Mereka yang merasakan operasi senyap Bang Dasco, tahu mengucapkan terima kasih. Sejak Bang Dasco turun tangan, mereka mendapatkan kedamaian kembali,” ujar Nicho, Selasa (25/11/2025).

Sorotan utama Nicho Silalahi terletak pada kejanggalan hukum yang melatarbelakangi sengketa tersebut. Konflik muncul setelah ditemukannya Sertifikat Hak Milik (SHM) yang diduga baru diterbitkan pada tahun 2024.

Padahal, warga telah bermukim damai di lokasi itu selama puluhan tahun sebelum SHM tersebut muncul. Keanehan ini semakin memicu dugaan kuat adanya praktik mafia tanah terorganisir, terutama setelah munculnya pembangunan sebuah hotel di sekitar area tersebut.

BACA JUGA:  Aceh Tamiang dan Agam Jadi Daerah Paling Parah, Berikut Update Terbaru Korban Banjir Sumatera