INDORAYATODAY.COM — Pemerintah Indonesia menargetkan penandatanganan perjanjian tarif perdagangan atau Agreements on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS) dapat terlaksana sebelum akhir Januari 2026.
Kesepakatan strategis ini direncanakan akan disahkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Indonesia dan United States Trade Representative (USTR) telah mencapai titik temu pada seluruh substansi utama maupun teknis. Perjanjian ini diharapkan menjadi babak baru dalam penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.
“Dokumen ART saat ini sudah masuk tahap legal scrubbing dan finalisasi. Pemerintah menargetkan penandatanganan dapat dilakukan sebelum akhir Januari 2026,” ujar Airlangga dalam dialog bersama media di Jakarta, Jumat (26/12/2025).
Melalui kesepakatan ART ini, Indonesia mendapatkan keistimewaan berupa pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas ekspor unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung devisa negara. Beberapa produk yang masuk dalam daftar tersebut antara lain:
Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil/CPO). Kopi, Teh, dan Kakao. Produk manufaktur padat karya
Airlangga menegaskan, kebijakan ini akan menjadi stimulus signifikan bagi eksportir nasional. “Langkah ini akan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat sekaligus memberikan kepastian hukum dan bisnis bagi pelaku usaha domestik,” imbuhnya.
Selain fokus pada tarif perdagangan, perjanjian ini juga mencakup kerja sama lintas sektor yang krusial, terutama terkait akses terhadap mineral kritis (critical minerals). Sektor ini menjadi perhatian serius mengingat peran Indonesia sebagai salah satu pemegang cadangan mineral terbesar di dunia yang dibutuhkan untuk industri teknologi masa depan.
Kerja sama di sektor mineral kritis sejatinya telah lama terjalin melalui keterlibatan sejumlah perusahaan besar asal Amerika Serikat di industri pertambangan tanah air. Dengan adanya dokumen ART, sinergi ini diharapkan semakin solid dan memberikan nilai tambah bagi hilirisasi industri di Indonesia.
Pertemuan antara Prabowo dan Trump ini menjadi kelanjutan dari diplomasi hangat kedua pemimpin, setelah sebelumnya sempat bertemu dalam sesi foto bersama pada KTT di Mesir, Oktober lalu.

Tinggalkan Balasan