INDORAYATODAY.COM — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Sugiono, membeberkan visi strategis yang akan dibawa Indonesia di panggung Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Jika dipercaya mengemban amanah sebagai Presiden Dewan HAM PBB, Indonesia berkomitmen untuk mengedepankan isu pemenuhan gizi dan akses pendidikan sebagai pilar utama hak asasi manusia global.
Dalam wawancara eksklusif pada Selasa (30/12/2025), Menlu Sugiono menjelaskan bahwa misi ini merupakan refleksi dari program domestik yang tengah diperjuangkan pemerintah.
Dia menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan upaya nyata dalam memenuhi hak dasar paling hakiki, yakni hak atas pangan.
“Kita ingin memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh masyarakat melalui pendidikan dan penyediaan gizi. Program MBG adalah jawaban untuk mengatasi stunting, yang merupakan hak setiap anak dan warga negara. Saya kira dunia internasional mengakui urgensi ini,” ujar Sugiono.
Diplomasi Berbasis Reputasi Pencalonan Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB untuk periode 2026 mendapat dukungan luas, termasuk nominasi sebagai calon tunggal dari Kelompok Asia Pasifik. Sugiono menilai hal ini sebagai simbol kepercayaan dunia terhadap rekam jejak diplomasi Indonesia yang inklusif dan konsisten dalam isu-isu kemanusiaan.
“Pengakuan ini didasarkan pada reputasi dan track record yang nyata. Dunia percaya kepada Indonesia. Ini membuat kita semakin yakin bahwa kita berada di jalur yang benar dalam pelaksanaan hak asasi manusia,” tegas Menlu.
Memperkuat Hak Dasar Global Sejalan dengan misi internasional tersebut, Indonesia terus berkomitmen memperkuat swasembada pangan nasional. Investasi dalam pemenuhan gizi dipandang sebagai modal utama untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Melalui kepemimpinan di Dewan HAM PBB nantinya, Indonesia berharap dapat membawa perspektif negara berkembang dalam mengarusutamakan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya.
Fokus pada gizi dan pendidikan diharapkan menjadi solusi konkret bagi tantangan kemiskinan dan ketimpangan yang masih melanda berbagai belahan dunia.

Tinggalkan Balasan