INDORAYATODAY.COM — Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi militer Amerika Serikat (AS) yang menangkap dan menahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya. Langkah sepihak yang dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari tersebut dinilai dapat mencederai norma-norma diplomatik global.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono, menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer terhadap pemimpin negara berdaulat berisiko menciptakan preseden buruk dalam tata hubungan internasional di masa depan.

“Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional,” tegas Sugiono melalui pernyataan resminya, Senin (5/1/2026).

Menurut Sugiono, tindakan kekerasan atau ancaman kekuatan tidak hanya mengganggu stabilitas dan perdamaian di kawasan Amerika Latin, tetapi juga melemahkan prinsip kedaulatan yang dijunjung tinggi dalam hukum internasional. Indonesia menekankan bahwa masa depan sebuah bangsa harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri tanpa campur tangan militer asing.

Ia mengingatkan komunitas internasional untuk tetap menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka. “Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengedepankan dialog dan menahan diri,” ujarnya.

Menlu Sugiono juga mendesak semua pihak yang terlibat untuk mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional. Di tengah ketegangan yang meningkat, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi poin utama yang tidak boleh diabaikan.

“Keselamatan warga sipil harus tetap menjadi prioritas utama,” tandas Menlu.

Sikap tegas Indonesia ini sejalan dengan posisi RI yang selalu mengedepankan jalan diplomasi dan dialog dalam menyelesaikan konflik antarnegara.

Sementara itu, dampak ekonomi dari ketegangan AS-Venezuela ini mulai dirasakan di pasar global, termasuk prediksi pelemahan nilai tukar Rupiah akibat ketidakpastian situasi geopolitik di Amerika Selatan.

BACA JUGA:  Kuota Rumah Subsidi Tembus Rekor 350 Ribu Unit, MenPKP Ara: Berkat Fasilitasi Dasco