INDORAYATODAY.COM, KARAWANG – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan wacana ekspor beras pada 2026 setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 2025. Wacana tersebut disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto saat panen raya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (07/01/2026).

Amran menyampaikan wacana ekspor tersebut saat melaporkan capaian swasembada beras 2025 dalam kegiatan panen raya di Cilebar, Karawang Timur. Ia menegaskan tidak meminta tambahan dukungan anggaran di luar yang telah diberikan pada 2025.

Menurut Amran, faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan swasembada sekaligus membuka peluang ekspor adalah kesiapan gudang dan daya serap Perum Bulog dalam menampung hasil panen petani.

“Izin Bapak Presiden, yang penting Bulog izinnya dan serapannya tiga bulan ke depan. Sama saja seperti 2025, saya tidak minta lebih. Hampir pasti kita lakukan ekspor tahun ini,” ujar Amran.

Ia menilai, apabila Indonesia mampu merealisasikan ekspor beras, maka hal tersebut akan menjadi catatan sejarah baru bagi sektor pertanian nasional. Untuk itu, Amran menyatakan akan berkoordinasi dengan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, terkait kesiapan pascapanen.

Amran juga melaporkan kondisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini tersimpan di gudang Bulog mencapai sekitar 3,2 juta ton. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan stok beras nasional pada 1984, saat Indonesia memperoleh penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO).

“Waktu itu stoknya hanya sekitar 2 juta ton. Kita sekarang pernah mencapai 4 juta ton, dan di akhir tahun ini berada di angka 3,2 juta ton,” kata Amran.

Selain stok beras, Amran melaporkan perkembangan kesejahteraan petani melalui Nilai Tukar Petani (NTP) yang telah menembus angka 125. NTP merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur daya beli dan tingkat kesejahteraan petani.

BACA JUGA:  Mensesneg: Penunjukan Doni Oskaria Percepat Restrukturisasi BUMN

Ia juga menyampaikan capaian ekspor sektor pertanian yang meningkat signifikan. Menurut Amran, nilai ekspor pertanian melonjak hingga 33 persen dengan nilai tambahan mencapai Rp 158 triliun.

“Sekali lagi, atas nama petani Indonesia, Bapak Presiden, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ini luar biasa,” ujarnya. ***