INDORAYATODAY.COM  – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung ekosistem kebudayaan nasional melalui skema Dana Indonesiana. Dukungan pembiayaan ini diarahkan untuk memperkuat proyek-proyek kebudayaan, termasuk pelestarian silat sebagai warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO.

Fadli Zon menjelaskan bahwa Dana Indonesiana merupakan bantuan yang disalurkan melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Saat ini, skema tersebut tengah dalam proses administratif dan dijadwalkan akan dibuka kembali untuk publik pada Februari 2026.

“Kami memiliki skema pembiayaan Dana Indonesiana yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan budaya, khususnya yang telah diakui UNESCO seperti silat,” ujar Fadli Zon usai bertemu perwakilan Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menambah alokasi Dana Indonesiana sebesar Rp 1 triliun. Dengan penambahan tersebut, total anggaran yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku budaya meningkat menjadi Rp 6 triliun.

Diplomasi Budaya Melalui Silat

Pertemuan antara Kementerian Kebudayaan dan NPSF juga membahas potensi silat sebagai medium diplomasi budaya, khususnya di Eropa. Perwakilan NPSF, Bradley Jacobs, mengungkapkan bahwa silat memiliki daya tarik besar di Belanda mengingat sekitar 20 persen populasi negara tersebut, atau sekitar 2,5 juta orang, memiliki garis keturunan Indonesia.

Bagi komunitas diaspora, silat tidak hanya dipandang sebagai cabang olahraga bela diri, tetapi juga sebagai sarana pelestarian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur. NPSF aktif membangun jejaring lintas negara dan rutin menggelar pelatihan dengan melibatkan tokoh budaya dari wilayah Surakarta dan sekitarnya.

Menbud berharap kolaborasi dengan komunitas diaspora dan organisasi internasional seperti NPSF dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui skema hibah, kerja sama pendidikan, serta promosi budaya yang lebih masif. Langkah ini dinilai strategis untuk menjadikan kebudayaan sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat identitas bangsa di kancah global.

BACA JUGA:  Dasco: DPR RI Mulai Bahas RUU Transportasi Online, Aspirasi Ojol Jadi Perhatian