INDORAYATODAY.COM — Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik nadir. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan gugus tempur kapal induk kedua ke wilayah tersebut. Langkah militer ini diambil sebagai bentuk tekanan ekstrem terhadap Teheran di tengah kebuntuan negosiasi program nuklir yang hingga kini belum menemui titik terang.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) telah menginstruksikan persiapan pengerahan armada tempur sebagai bagian dari rencana kontinjensi. Pejabat Washington menyebutkan bahwa perintah pengerahan tersebut bisa keluar dalam hitungan jam jika upaya diplomatik dinyatakan gagal total.

Kapal induk USS George H.W. Bush yang saat ini berada di lepas pantai Virginia dikabarkan tengah mempercepat latihan tempur agar bisa segera diberangkatkan. Jika perintah resmi turun, kapal ini akan menyusul USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu bersiaga di perairan Timur Tengah.

Penguatan militer ini tidak hanya melibatkan kapal induk, tetapi juga mencakup kapal perang tambahan, sistem pertahanan udara canggih, hingga skuadron jet tempur. Presiden Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS siap mengambil tindakan keras jika negosiasi tidak membuahkan hasil. “Kita memiliki armada yang sedang menuju ke sana, dan armada lainnya mungkin akan menyusul,” tegas Trump, Selasa (10/2/2026).

Meski menunjukkan taring militer, Trump menyatakan tetap membuka pintu negosiasi. Pernyataan ini muncul usai pertemuan tertutup dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih. Melalui platform Truth Social, Trump menekankan bahwa kesepakatan damai tetap menjadi prioritas utama.

“Saya mendesak agar negosiasi dengan Iran terus berlanjut. Jika kesepakatan bisa dicapai, itu akan menjadi prioritas. Jika tidak, kita lihat saja hasilnya nanti,” tulisnya.

BACA JUGA:  Muzani Ajak PKC dan Parpol Asia Bangun Kepercayaan untuk Stabilitas Kawasan

Respons Keras Teheran Di sisi lain, Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan peringatan keras bahwa setiap agresi militer baru dari Washington akan memicu balasan mematikan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah. Iran tetap pada pendiriannya untuk tidak melepas hak pengayaan uranium dan menolak merundingkan program rudal balistiknya.

Dunia internasional kini menatap cemas ke arah Teluk. Langkah AS yang menempatkan kekuatan militer “sejengkal” dari wilayah Iran dikhawatirkan dapat memicu gesekan yang berujung pada perang terbuka, yang pastinya akan berdampak luas pada stabilitas keamanan dan ekonomi global, termasuk harga energi dunia.