Jakarta, Pola kerja di level manajemen puncak kian bergeser dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah akselerasi digitalisasi dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi, banyak CEO serta pendiri perusahaan mulai meninggalkan pendekatan konvensional. Kepemimpinan tak lagi identik dengan kehadiran fisik di kantor dan susunan administratif yang gemuk, melainkan dengan kecepatan respons, ketajaman informasi, serta tata kelola yang adaptif.

Bagi sejumlah pelaku usaha, khususnya di sektor digital dan rintisan, efektivitas seorang pemimpin tidak lagi diukur dari banyaknya staf yang mendampingi. Penilaian kini bertumpu pada seberapa sigap keputusan diambil dan bagaimana kegiatan perusahaan tetap tertata di tengah kompleksitas yang terus bertambah.

Sejalan dengan arah baru tersebut, posisi sekretaris in-house yang dahulu menjadi elemen penting dalam pengaturan manajemen mulai ditinggalkan. Banyak CEO memilih bantuan profesional jarak jauh untuk menunjang aktivitas harian. Virtual Assistant (VA) pun menjadi salah satu skema kolaborasi yang kian luas diterapkan, didorong oleh ritme usaha yang makin cepat dan melintasi berbagai zona waktu.

Virtual Assistant tidak sebatas mengerjakan tugas kesekretariatan dasar. Dalam praktiknya, mereka mengatur agenda eksekutif, memilah informasi, mengoordinasikan komunikasi lintas divisi, hingga memastikan prioritas strategis berjalan sesuai target. Kontribusi tersebut membuat VA kerap disebut sebagai invisible workforce—tenaga profesional di balik layar yang memengaruhi kelancaran aktivitas korporasi.

Menurut Mimi Amilia, praktisi dan pendiri Virtual Assistant Indonesia (VAI), realitas ini menunjukkan bahwa fungsi administratif kini memegang peran yang semakin vital.

“Banyak yang masih melihat VA sebagai pendukung teknis, padahal dalam praktiknya mereka ikut menjaga ritme eksekusi bisnis. Ketika arus informasi sudah tersaring dan prioritas tertata, pemimpin bisa fokus pada keputusan yang berdampak besar,” jelasnya.

BACA JUGA:  Waspada! Video Viral Andini Permata dan Bocil, Jangan Terjebak Link Berbahaya

Pada tingkat eksekutif, kehadiran tenaga profesional jarak jauh memungkinkan pimpinan lebih leluasa memusatkan perhatian pada strategi serta ekspansi usaha. Berbeda dengan sekretaris konvensional yang terikat jam kerja serta lokasi tertentu, VA bekerja dengan pendekatan berbasis output. Pola ini memberikan nilai tambah bagi perusahaan karena aktivitas harian tetap terkendali tanpa harus menanggung beban biaya tetap seperti ruang kerja dan fasilitas tambahan.

Transformasi ini sekaligus menandai redefinisi peran VA itu sendiri. Para profesional di bidang tersebut dituntut memahami lanskap usaha, memiliki keterampilan komunikasi yang solid, serta mahir mengoperasikan beragam platform digital. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai pelaksana instruksi semata, melainkan rekan kerja strategis yang memahami kebutuhan klien secara menyeluruh.

“Yang dibutuhkan CEO sekarang bukan sekadar jabatan, tetapi fungsi yang mampu menjaga fokus dan efisiensi kerja. Struktur boleh ramping, tetapi sistem harus kuat,” ujar Mimi Amilia.

Sejumlah pelaku industri melihat pendekatan ini sebagai cara membangun organisasi yang lebih tangkas. Alih-alih menambah pegawai tetap, perusahaan dapat menyesuaikan kebutuhan tenaga penunjang sesuai tahap pertumbuhan. Ke depan, kontribusi VA diproyeksikan makin terintegrasi dalam aktivitas korporasi seiring meningkatnya penerapan kerja jarak jauh dan otomasi proses. Bagi CEO dan founder, langkah ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan adaptasi terhadap lanskap profesional baru yang menuntut kecepatan, produktivitas, dan sinergi berkelanjutan.