INDORAYATODAY.COM – Industri perfilman nasional tengah berada dalam tren positif, namun akses tontonan yang layak bagi masyarakat di daerah masih menjadi tantangan besar.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan pentingnya kehadiran micro cinema atau bioskop mikro berbasis digital sebagai solusi pemerataan sebaran karya anak bangsa hingga ke tingkat kecamatan.

Apresiasi tersebut disampaikan Fadli Zon saat meninjau perkembangan ekosistem perfilman di Jakarta, Kamis (5/3/2026). Menurutnya, ketersediaan layar yang selama ini terpusat di kota-kota besar harus segera dipecah agar masyarakat di pelosok dapat menikmati hasil kebudayaan modern.

Fadli Zon menilai kehadiran inovasi seperti “Layar Digi” merupakan langkah luar biasa untuk mengisi kekosongan fasilitas hiburan edukatif di daerah. “Layar ini bisa hadir sampai kecamatan, bahkan ke daerah yang belum memiliki bioskop. Peluangnya besar dan ini akan membantu pemajuan kebudayaan sekaligus mendorong ekonomi kreatif di hilir,” ujar Fadli.

Senada dengan Fadli, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memandang momentum ini sangat tepat. Di tengah meningkatnya kualitas film nasional, permintaan akses layar di berbagai kabupaten/kota kian melonjak. Ia optimistis jaringan bioskop mikro ini akan tumbuh menjadi salah satu kekuatan distribusi film terbesar di Tanah Air.

Sementara itu, Presiden Komisaris PT Teknologi Layar Digital, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa misi utama bioskop mikro ini adalah memperkuat sinergi hulu dan hilir industri film. Ia menekankan bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kekuatan budaya (soft power) Indonesia.

“Harapan kami adalah mendorong kreativitas anak bangsa dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor kreatif. Kami ingin masyarakat di seluruh pelosok bisa menikmati karya-karya bermutu di layar lebar,” tutur Rahayu.

BACA JUGA:  Menteri PKP Laporkan Kasus Meikarta ke Presiden Prabowo

Layar Digi sendiri mengusung konsep bioskop kapasitas kecil namun tetap mengedepankan kualitas proyeksi digital dan tata suara standar industri.

Langkah ini diharapkan mampu menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan identitas bangsa yang terekam dalam seluloid, sekaligus menjadi sarana dakwah kultural yang efektif di berbagai wilayah Indonesia.