Jakarta, Industri wisata laut nasional kini mengalami pergeseran fundamental, dari ranah yang historis didominasi laki-laki menuju ekosistem yang lebih inklusif.

Komunitas Penyelam Profesional Perempuan Indonesia (KP3I), wadah yang menyatukan penyelam perempuan dari berbagai latar belakang dan institusi di seluruh Nusantara. Sejak didirikan pada 19 April 2019, KP3I konsisten memperjuangkan kesetaraan gender, peningkatan kapasitas, serta partisipasi aktif dalam pembangunan pariwisata bahari berwawasan lingkungan, nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional.

Menurut Mimi Amilia, instruktur selam dan perwakilan KP3I, komunitas ini lahir sebagai respons terhadap hambatan struktural yang masih dihadapi di lapangan. “KP3I dibentuk sebagai aliansi untuk mengidentifikasi tantangan, membangun solusi bersama, dan mempercepat terciptanya industri selam yang lebih terbuka dan profesional,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, KP3I telah mengimplementasikan berbagai program konkret untuk memperkuat kapasitas anggotanya melalui pelatihan, pendampingan, serta keterlibatan dalam proyek strategis. Para anggotanya berkontribusi bukan hanya pada wisata bahari, tetapi juga konservasi dan operasi pencarian-penyelamatan (SAR), menempatkan mereka sebagai aktor profesional yang integral dalam ekosistem kelautan.

Dalam sektor pariwisata, penyelam KP3I menghadirkan nilai tambah unik. Selain menguasai keterampilan teknis, mereka berperan sebagai edukator bagi wisatawan, penjaga keselamatan, dan jembatan yang memperkaya pemahaman pengunjung tentang biosistem laut.

Mimi Amilia menambahkan, “Perspektif inklusif dan pendekatan jangka panjang yang kami bawa terbukti mendorong praktik wisata yang lebih bertanggung jawab. Kami tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan kelestarian pesisir.”

KP3I juga aktif dalam gerakan lingkungan global. Pada Juni 2021, komunitas ini bergabung dengan lebih dari 70 organisasi lingkungan dunia dalam mendesak para pemimpin G7 untuk menjadikan aksi kelautan sebagai bagian integral dari pembahasan krisis iklim dan keanekaragaman hayati melalui kampanye #ListenToTheOcean. Sebelumnya, pada September 2020, KP3I berkolaborasi dengan Seakeepers dari Singapura dan Ocean Blue Project dari Amerika dalam diskusi daring bertema “Let’s Go Back To The Sea”, serta menggelar kompetisi foto bertema polusi sampah bersama Trash Hero dan 4LessWaste.
Kepedulian terhadap isu lingkungan ini menunjukkan bahwa peran penyelam profesional melampaui aspek komersial pariwisata. Mereka menjadi garda depan dalam advokasi perlindungan laut, menghubungkan gerakan lokal dengan kampanye global untuk keberlanjutan ekosistem maritim.

BACA JUGA:  Pemain Timnas Indonesia Ini Dijuluki Anjing Penjaga di Klub Eropa

KP3I juga menjalin kemitraan dengan berbagai organisasi kelautan internasional, termasuk Seakeepers Asia, Ocean Culture Life, Women for Oceans, 5 Gyres, dan Plastic Pollution Coalition. Kolaborasi ini menempatkan komunitas penyelam perempuan Indonesia dalam jaringan global gerakan perlindungan laut, memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang aktif dalam advokasi lingkungan.

Ke depannya, KP3I terus mengembangkan program-program pemberdayaan melalui inisiatif seperti Dive for Impact dan Women Empowerment Workshop yang dijadwalkan pada 2026. Platform seperti Mouthpiece Podcast juga menjadi media untuk menyuarakan isu-isu perempuan dalam industri selam dan konservasi laut.

Menyongsong Hari Perempuan Internasional 2026 yang bertemakan “Give to Gain”, gelombang perubahan yang dipelopori para profesional tangguh ini bukan lagi sekadar tren, namun merupakan fondasi menuju masa depan pariwisata bahari Indonesia yang lebih berkeadilan, berkualitas, dan Lestari, bukti nyata bahwa ketika perempuan diberdayakan, seluruh bangsa ikut maju.