INDORAYATODAY.COM – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI meminta pemerintah untuk mempertimbangkan penarikan pasukan perdamaian Indonesia dari wilayah Lebanon.

Usulan ini menyusul gugurnya tiga prajurit TNI akibat serangan membabi buta yang dilancarkan pasukan Israel ke sekitar markas Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL).

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menegaskan bahwa keselamatan prajurit harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, opsi penarikan pasukan perlu dikaji secara mendalam, terutama jika sudah tidak ada lagi jaminan keamanan bagi personel penjaga perdamaian di lapangan.

“Jika tidak ada jaminan keselamatan bagi pasukan misi perdamaian kita, maka MPR meminta agar pemerintah mempertimbangkan untuk menarik seluruh pasukan yang ada di Lebanon,” ujar Muzani dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).

Muzani menjelaskan bahwa usulan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konstitusi secara tegas memerintahkan negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk para prajurit yang tengah bertugas di luar negeri.

“Konstitusi memerintahkan untuk melindungi segenap bangsa. Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan penarikan pasukan dalam misi tersebut jika situasi di Lebanon Selatan kian membahayakan keselamatan personel TNI,” ungkapnya.

Kecaman Keras terhadap Israel

Selain mendesak peninjauan ulang misi, MPR juga mengutuk keras serangan berulang yang dilakukan oleh militer Israel. Muzani menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan “sangat biadab” karena telah merenggut nyawa prajurit yang tengah menjalankan misi suci perdamaian dunia di bawah mandat PBB.

Atas dasar itu, MPR mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar sidang penyelidikan dan menjatuhkan sanksi tegas terhadap Israel. Muzani juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya putra-putra terbaik bangsa tersebut dan mengusulkan agar pemerintah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka.

BACA JUGA:  Idul Adha 2025! Kapolri Serahkan 9.648 Hewan Kurban untuk Masyarakat

Kronologi Gugurnya Prajurit Garuda

Berdasarkan laporan resmi, serangan artileri Israel di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada Minggu (29/3/2026), menyebabkan Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon gugur. Sementara tiga personel lainnya, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka-luka.

Kondisi semakin memburuk pada Senin (30/3/2026), ketika PBB melaporkan serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan. Serangan ini kembali memakan korban jiwa dari kontingen Indonesia.

Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, mengonfirmasi dua prajurit yang gugur dalam insiden kedua adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu (Sertu) Muhammad Nur Ichwan. Adapun personel yang terluka adalah Letnan Satu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.

Gugurnya para prajurit ini memicu gelombang simpati dan desakan publik agar pemerintah segera mengambil langkah diplomasi serta perlindungan maksimal bagi Kontingen Garuda di Timur Tengah.