INDORAYATODAY.COM – Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan pilar utama persatuan bangsa sekaligus penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tak tergoyahkan. Dalam peringatan satu abad NU yang jatuh pada Sabtu (31/1/2026), Muzani menyebut peran historis para ulama dan santri telah melampaui usia kemerdekaan Indonesia sendiri.

“Hari ini, usia NU tepat 100 tahun. NU lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan mencapai usia satu abad pada 2045 mendatang. Kontribusi NU sejak berdiri hingga sekarang sungguh luar biasa besar,” ujar Ahmad Muzani saat memberikan sambutan dalam peringatan Harlah ke-100 NU di Jakarta.

Muzani mengenang masa awal berdirinya NU pada 1926, di mana kondisi rakyat Indonesia masih terbelenggu kemiskinan dan keterbatasan pendidikan akibat penjajahan. Di tengah situasi sulit tersebut, para kiai dan ulama memiliki kesadaran tinggi untuk membangkitkan martabat umat melalui jalur pendidikan pesantren dan penguatan ekonomi.

Politikus Partai Gerindra ini mengingatkan kembali peristiwa heroik November 1945 di Surabaya. Kala itu, Resolusi Jihad yang difatwakan para ulama menjadi pemantik keberanian santri dan rakyat untuk mengangkat senjata melawan agresi Belanda dan Inggris.

“Tanpa diminta, fatwa jihad keluar. Seluruh santri NU, laki-laki dan perempuan, di desa maupun di kota, mengangkat bambu runcing demi mempertahankan martabat Republik Indonesia. Barangkali, kekuatan doa melalui yasinan, tahlilan, zikir, dan selawat inilah yang menyebabkan bangsa kita tetap kuat dan bersatu hingga kini. Bangsa ini berutang kepada NU,” ucap Muzani dengan nada takzim.

Tak hanya di medan laga, NU juga dinilai konsisten menjaga ideologi negara dari ancaman komunisme serta selalu hadir di tengah masyarakat saat terjadi bencana nasional untuk memberikan ketenangan batin melalui pendekatan keagamaan.

BACA JUGA:  Ketua MPR Ahmad Muzani Apresiasi Peran BAZNAS Urus Fakir Miskin

Menyongsong abad kedua, Muzani menekankan bahwa negara sangat membutuhkan sosok NU yang mandiri dan kuat secara organisasi maupun jemaah. Menurutnya, stabilitas nasional sangat bergantung pada kesejahteraan warga Nahdliyin.

“Kalau NU kuat, Indonesia akan kuat. NU kuat apabila jemaahnya sehat, tercukupi kebutuhan dasarnya, memiliki pekerjaan, dan hidup layak. Indonesia akan tangguh jika rakyatnya cerdas dan memiliki rohani yang sehat,” tambahnya.

Menutup orasinya, Muzani menegaskan bahwa pengabdian NU selama seabad ini murni didasari oleh keikhlasan, bukan demi mengejar pujian duniawi. Bagi pengurus, santri, dan para nyai, tujuan utama dari setiap gerakan organisasi hanyalah mengharap ridha Allah SWT demi keselamatan bangsa dan agama.