INDORAYATODAY.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memperkuat langkah strategis dalam upaya pengentasan kasus tengkes atau stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan intervensi gizi guna mewujudkan target zero stunting di Kota Hujan.
Hal tersebut ditegaskan Jenal saat menghadiri kick off bantuan intervensi stunting hasil kerja sama dengan Gain Indonesia dan Rumah Zakat di Kantor Kecamatan Bogor Selatan, Selasa (3/2/2026). Jenal yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPS) Kota Bogor menyebut langkah ini sebagai gerakan kemanusiaan bersama.
“Kita istiqomah dan terus berikhtiar memerangi stunting di Kota Bogor. Kolaborasi adalah kunci utama untuk menyentuh langsung akar permasalahan gizi pada anak-anak kita,” ujar Jenal Mutaqin.
Jenal mengungkapkan, salah satu pilar kekuatan penanganan stunting di Bogor adalah kedermawanan para Aparatur Sipil Negara (ASN). Secara sukarela, para ASN setiap bulan menyisihkan sebagian penghasilan mereka, berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu, untuk didonasikan bagi pemenuhan gizi balita.
Selain swadaya ASN, peran sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan lembaga filantropi seperti Rumah Zakat turut menjadi motor penggerak. Di Kecamatan Bogor Selatan, sebanyak 71 anak mendapatkan bantuan pangan berupa beras dan telur selama enam bulan berturut-turut.
“Untuk sisa anak yang belum terkaver lembaga donor, intervensi dilakukan melalui dana sukarela dari ASN. Di Bogor Selatan sendiri terdapat 203 kasus, dan kami pastikan seluruhnya mendapatkan pemantauan,” jelasnya.
Guna memastikan bantuan tepat sasaran dan akuntabel, Pemkot Bogor telah meluncurkan aplikasi Besti. Melalui platform digital ini, para donatur dapat memantau perkembangan berat dan tinggi badan anak yang mereka bantu secara real-time melalui akun masing-masing.
“Foto dan laporan perkembangan diunggah secara rutin oleh tim pendamping keluarga. Transparansi ini penting agar para donatur merasa tenang dan yakin bahwa bantuan mereka memberikan dampak nyata,” kata Jenal.
Data terbaru menunjukkan tren positif dalam penanganan stunting di Kota Bogor. Angka kasus tercatat mengalami penurunan dari 1.588 kasus pada tahun lalu menjadi 1.491 kasus saat ini. Jenal optimistis, dengan keterbukaan pemerintah untuk berkolaborasi dengan seluruh stakeholder, Kota Bogor mampu memutus rantai stunting secara permanen.
“Kami terus membuka pintu bagi semua pihak yang ingin berkontribusi. Insya Allah, dengan konsistensi ini, kita targetkan Kota Bogor benar-benar bebas dari stunting,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan