INDORAYATODAY.COM — Tabir gelap di balik operasional penitipan anak (daycare) Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, akhirnya terkuak ke publik.

Kasus yang menggemparkan warga Jogja ini mengungkap rangkaian praktik tidak manusiawi, di mana puluhan balita diduga disiksa dengan cara diikat ke pintu sepanjang hari demi menekan biaya operasional dan mengejar keuntungan ekonomi semata.

Kronologi terungkapnya kekejaman ini bermula dari keberanian seorang mantan pengasuh yang melapor ke Polresta Jogja setelah mengundurkan diri. Saksi kunci tersebut mengaku tidak sanggup lagi menyaksikan penderitaan anak-anak asuhnya yang diperlakukan layaknya benda mati.

Polisi yang bergerak cepat melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026) menemukan fakta memilukan; dari 103 anak yang terdaftar, sedikitnya 53 anak mengalami trauma fisik dan psikis.

Modus kekejaman yang dilakukan para tersangka tergolong sangat rapi namun keji. Sejak tiba di pagi hari, anak-anak dimasukkan ke dalam ruangan yang sesak dengan sirkulasi udara minim.

Para pengasuh, atas perintah lisan dari Ketua Yayasan berinisial DK, mengikat pergelangan tangan dan kaki anak-anak ke pintu menggunakan kain agar mereka tidak banyak bergerak.

Ikatan tersebut hanya dilepas sesaat pada waktu mandi dan makan, terutama saat pengasuh harus mengambil foto dokumentasi untuk dikirimkan kepada orang tua sebagai laporan “palsu” bahwa anak mereka dalam kondisi baik.

Hingga saat ini, Polresta Jogja telah menetapkan 13 tersangka perempuan yang terdiri dari jajaran pengelola hingga pengasuh.

Polisi menyebut motif utama di balik kekejaman ini adalah efisiensi kerja yang menyimpang, di mana satu pengasuh dipaksa menangani hingga delapan anak sekaligus untuk memaksimalkan margin keuntungan dari biaya pendaftaran yang dipatok mencapai Rp1,5 juta per bulan.

BACA JUGA:  Terungkap, Motif Teror Bom 10 Sekolah di Depok soal Asmara