INDORAYATODAY.COM, CIANJUR – Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ai Juariah (48), dijadwalkan tiba di Indonesia pada Minggu (12/7/2026) setelah sempat tertahan selama 14 bulan di Libya.

Kepulangan Ai menjadi titik terang setelah pemerintah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak hingga korban akhirnya diizinkan pulang tanpa harus membayar denda yang sebelumnya disebut mencapai Rp150 juta.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, Hero Laksono, mengatakan kepastian pemulangan diperoleh setelah pihaknya menerima informasi resmi dari kementerian terkait dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Libya.

“Berbagai upaya dilakukan instansi terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Libya, akhirnya membuat agensi memperbolehkan Ai untuk pulang tanpa membayar denda dan tiket pesawat dibelikan pihak agensi,” ujar Hero, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Hero, berbagai kendala administrasi yang sebelumnya menghambat kepulangan Ai kini telah diselesaikan sehingga proses pemulangannya dapat dilakukan.

Ai diketahui berangkat bekerja ke Libya sekitar 14 bulan lalu melalui jalur nonprosedural. Selama berada di negara tersebut, ia disebut mengalami berbagai persoalan, termasuk harus berpindah majikan hingga 11 kali.

Situasi itu membuat Ai terjebak dalam persoalan administrasi yang menghambat kepulangannya ke Indonesia. Sebelum akhirnya dibebaskan, ia bahkan dikabarkan diminta membayar denda sebesar Rp150 juta agar dapat kembali ke Tanah Air.

Setibanya di Indonesia, Ai akan dijemput oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama kementerian terkait. Ia dijadwalkan beristirahat terlebih dahulu di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya di Cianjur.

Disnakertrans Cianjur juga memastikan akan terus memberikan pendampingan kepada Ai, termasuk saat memberikan keterangan kepada kepolisian terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang diduga dialaminya selama bekerja di Libya.

BACA JUGA:  Perjuangan Perempuan Penyelam Menuju Industri Maritim Inklusif

“Kami akan terus mendampingi Ai sampai bertemu kembali dengan keluarganya di Cianjur. Ai akan memberikan keterangan pada petugas terkait TPPO yang menimpa dirinya sampai terdampar dan mendapat perlakuan tidak manusiawi selama bekerja di Libya,” kata Hero.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Libya melakukan serangkaian upaya untuk melacak keberadaan Ai serta memastikan keselamatannya. Berdasarkan laporan terakhir, kondisi kesehatan Ai dilaporkan telah berangsur membaik menjelang proses pemulangannya ke Indonesia.