INDORAYATODAY.COM — Sejumlah negara Arab di kawasan Teluk Persia mendesak Amerika Serikat (AS) untuk tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran. Langkah militer tersebut dikhawatirkan akan memicu ketidakstabilan ekonomi dan politik yang luas di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Rabu (14/1/2026), Arab Saudi bersama Oman dan Qatar dilaporkan aktif melakukan lobi tertutup kepada pemerintahan Presiden Donald Trump. Langkah ini diambil setelah Gedung Putih memberikan peringatan kepada negara-negara sekutunya di Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan tindakan terhadap Teheran.

Meskipun negara-negara Teluk cenderung menahan diri dalam memberikan pernyataan publik terkait gelombang protes yang melanda Iran, di balik layar mereka menekan pejabat AS agar mempertimbangkan ulang opsi militer.

Para pejabat di kawasan Teluk menilai bahwa upaya militer untuk menggulingkan pemerintahan Iran akan berdampak serius pada jalur pengiriman minyak global, khususnya melalui Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan titik nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Selain risiko ekonomi, negara-negara tetangga Iran tersebut mengkhawatirkan adanya aksi balasan yang menyasar wilayah mereka jika pasukan AS bertindak. Arab Saudi dilaporkan telah menyampaikan pesan kepada Teheran bahwa Kerajaan tidak akan terlibat dalam konflik apa pun, termasuk melarang penggunaan wilayah udaranya oleh militer AS.

Sikap Riyadh ini mencerminkan prioritas nasional mereka pada program Visi 2030, yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan guna mendukung diversifikasi ekonomi. Sejumlah analis berpendapat bahwa hasil yang diinginkan negara Teluk adalah reformasi domestik di Iran, bukan keruntuhan total pemerintahan yang dapat memicu kekacauan regional.

Ketegangan ini terjadi di tengah gelombang protes besar-besaran di Iran yang dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial serta memburuknya kondisi ekonomi sejak akhir Desember lalu. Pemerintah Iran menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut dan melabelinya sebagai aksi terorisme.

BACA JUGA:  Kopi Harga Rp11 Juta per Cangkir, Seperti Apa Rasanya?

Data dari lembaga pemantau HAM, Human Rights Activists News Agency, memperkirakan jumlah korban tewas telah melampaui 2.550 orang, termasuk aparat keamanan dan demonstran. Selain itu, dilaporkan lebih dari 10.000 orang ditahan di 187 kota di seluruh negeri.

Hingga saat ini, Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan final terkait tindakan militer. Namun, melalui media sosial, ia terus menyuarakan dukungan bagi para demonstran di Iran untuk tetap bertahan menghadapi tekanan pemerintah.