INDORAYATODAY.COM — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah otoritas Israel mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS). Israel menyatakan kesiapannya untuk melancarkan serangan militer secara mandiri terhadap Iran jika Teheran melampaui “garis merah” terkait pengembangan program rudal balistiknya.

Laporan harian The Jerusalem Post, mengutip pejabat pertahanan Israel, menyebutkan bahwa peringatan ini telah disampaikan secara resmi kepada pihak Washington. Israel memandang ambisi rudal balistik Iran bukan sekadar ancaman regional, melainkan ancaman eksistensial bagi keberlangsungan negara tersebut.

“Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber pertahanan tersebut sebagaimana dikutip pada Senin (9/2/2026).

Militer Israel dilaporkan telah mematangkan rencana operasional yang mencakup opsi serangan presisi terhadap fasilitas-fasilitas produksi utama di wilayah Iran. Jalur komunikasi militer antara Tel Aviv dan Washington dalam beberapa pekan terakhir disebut-sebut intens membahas langkah penggagalan rencana pengembangan rudal Teheran.

Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomasi yang kembali berdenyut. Pada Jumat pekan lalu, perundingan nuklir antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Oman kembali digelar di Muscat setelah sempat mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus memberikan tekanan psikologis dan militer terhadap Teheran. Trump mengisyaratkan adanya pergerakan “armada besar” menuju kawasan tersebut, seraya berharap Teheran bersedia menandatangani kesepakatan yang ia sebut sebagai perjanjian yang “adil dan seimbang”.

Namun, Trump juga memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa jika kesepakatan nuklir gagal tercapai, setiap tindakan militer AS di masa depan akan berdampak jauh lebih destruktif dibandingkan konfrontasi-konfrontasi sebelumnya.

BACA JUGA:  Iran Klaim Kemenangan, AS Terima 10 Poin Untungkan Teheran 

Menanggapi tuduhan tersebut, pemerintah Iran secara konsisten membantah adanya dimensi militer dalam program nuklir maupun pengembangan teknologinya. Teheran menegaskan bahwa seluruh aktivitas nuklirnya bertujuan untuk kepentingan damai.

Sejalan dengan klaim tersebut, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir yang aktif di Iran. Meski demikian, bayang-bayang konfrontasi bersenjata tetap menghantui kawasan tersebut seiring dengan semakin tipisnya ruang diplomasi yang tersisa.