INDORAYATODAY.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dengan menyatakan dirinya akan merasa terhormat untuk bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Langkah diplomatik ini diambil sebagai upaya untuk memuluskan perjanjian besar guna mengakhiri perang AS-Iran yang telah melumpuhkan stabilitas global selama empat bulan terakhir.
Kesiapan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat (5/6/2026). Trump menegaskan membuka peluang penuh untuk bertatap muka jika kesepakatan damai antar kedua negara berhasil dicapai.
“Jika kita membuat kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu. Saya tidak keberatan dengan hal itu,” ujar Trump.
Mojtaba Khamenei sendiri naik takhta menjadi pemimpin tertinggi baru di Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas terbunuh pada hari pertama pertempuran meletus. Meski serangan gabungan AS dan Israel menewaskan keluarga Khamenei, Trump secara mengejutkan tetap berekspektasi bahwa pemimpin baru Iran tersebut akan bersikap profesional.
“Di beberapa kalangan, dia sebenarnya memiliki reputasi yang sangat baik,” tambah Trump.
Perang yang telah berlangsung selama empat bulan ini telah mengacaukan pasar global dan memicu lonjakan hebat pada harga minyak bumi. Iran diketahui telah menutup sebagian besar Selat Hormuz sejak awal perang—jalur pelayaran kritis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Akibat penutupan jalur krusial ini, gejolak ekonomi langsung menghantam tangki bahan bakar di Amerika Serikat. Berdasarkan data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA), harga bensin di AS rata-rata melonjak tajam hingga menyentuh angka US$ 4,24 atau sekitar Rp 76.320 per galon secara nasional.
Saling Tuntut di Meja Perundingan
Saat ini, eskalasi konflik dilaporkan tengah berada dalam kondisi gencatan senjata yang sangat rapuh. Sinyal yang beragam terus bermunculan dari meja negosiasi akibat tuntutan keras dari kedua belah pihak:
Tuntutan Amerika Serikat: Mendesak Iran menyetujui perjanjian untuk tidak akan pernah memproduksi atau memiliki senjata nuklir, serta segera membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Tuntutan Iran: Menuntut penghentian permusuhan dengan segera di semua lini pertempuran dan mendesak Amerika Serikat menarik total blokade angkatan lautnya di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan sempat memuncak kembali pada awal pekan ketika tim negosiator Iran mengancam akan menghentikan seluruh proses perundingan dan menutup total Selat Hormuz. Namun, situasi berubah drastis setelah Trump secara sepihak mengklaim bahwa Teheran sebenarnya telah melunak dan setuju untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Tinggalkan Balasan