INDORAYATODAY.COM, SWISS – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa esensi kepemimpinan negara terletak pada kemampuan pemimpin bekerja untuk menghadirkan senyum bagi rakyat paling miskin dan paling lemah. Pandangan tersebut disampaikannya saat berpidato di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss.
Dalam pidatonya di forum ekonomi dunia, Prabowo mengungkapkan bahwa prinsip kepemimpinan tersebut ia peroleh dari seorang pemimpin politik yang ia nilai jujur dan bijaksana. Nasihat itu kemudian menjadi pijakan dalam menjalankan tugasnya sebagai Presiden Indonesia.
“Dia memberi tahu saya, ‘Prabowo, tugas seorang pemimpin sangat sederhana. Jika kamu ingin menjadi pemimpin negara ini, kamu harus bekerja agar si miskin dan si lemah bisa tersenyum dan bisa tertawa,’” ujar Prabowo, Kamis (22/01/2026), dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Menurut Prabowo, senyum dari rakyat miskin dan lemah merupakan indikator adanya harapan akan masa depan yang lebih baik. Ekspresi tersebut, kata dia, mencerminkan perbaikan kondisi hidup serta meningkatnya peluang mata pencaharian masyarakat.
“Itu berarti mereka melihat masa depan. Itu berarti mata pencaharian mereka sedang diperbaiki,” ucap Prabowo.
Ia menyampaikan bahwa prinsip tersebut kini menjelma menjadi misi utama pemerintahannya. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan kelompok paling rentan, menurut Prabowo, tidak terlepas dari komitmen memberantas korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan jabatan.
“Jadi itulah misi saya sekarang, untuk membuat orang Indonesia yang paling miskin, yang paling lemah, tersenyum,” kata Prabowo.
Prabowo juga menyinggung kondisi global yang tengah dihadapkan pada pengetatan keuangan, meningkatnya ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian politik. Di tengah situasi tersebut, ia menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid.
Ia menyebut ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 5 persen per tahun selama satu dekade terakhir. Prabowo optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun berjalan akan lebih tinggi.
“Inflasi kita tetap sekitar 2 persen. Defisit pemerintah kita sekarang dijaga di bawah 3 persen dari PDB,” ujarnya.
Menurut Prabowo, pengakuan lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap ketahanan ekonomi Indonesia didasarkan pada data dan kinerja nyata, bukan optimisme semata.
“Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia tangguh. Kebijakan kita telah dan akan selalu terkalibrasi dengan baik,” tutur Prabowo.
Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memastikan kebijakan negara berpihak pada rakyat, khususnya kelompok paling miskin dan rentan.

Tinggalkan Balasan