INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Petani sayur asal Desa Kadiwano, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, merasakan peningkatan pendapatan setelah adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut membuat hasil panen petani terserap secara rutin untuk kebutuhan dapur penyedia makanan bergizi.

Sebelum program berjalan, Samuel Surodadi kerap mengalami kesulitan menjual hasil panen. Sebagian sayuran bahkan terbuang dan dijadikan pakan ternak karena tidak laku di pasar.

“Kami bersyukur hasil tani kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan dengan teratur,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

Ia mengaku sebelumnya penghasilan sebagai petani kacang-kacangan tidak menentu dan paling tinggi hanya sekitar Rp100.000 per hari. Setelah adanya dapur MBG, pendapatannya meningkat hingga sekitar Rp300.000 per hari karena hasil panen langsung diserap tanpa biaya distribusi tambahan.

Menurutnya, keberadaan dapur MBG tidak hanya membantu ekonomi petani, tetapi juga meningkatkan kehadiran siswa di sekolah karena anak-anak mendapatkan makanan sebelum belajar.

Sebagai Ketua Gapoktan Bina Kasih yang beranggotakan 21 petani dari sembilan desa, Samuel berupaya mengatur pola tanam agar pasokan komoditas lebih beragam dan berkelanjutan. Pembagian jenis tanaman dilakukan untuk menghindari kelebihan produksi pada satu komoditas.

“Nanti jangan ramai-ramai satu komoditas. Kita bagi supaya semua tercover,” katanya.

Saat ini, kelompok tani tersebut memasok kebutuhan sayuran ke satu dapur MBG, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kadi Wano. Kebutuhan rutin meliputi buncis dan kacang panjang masing-masing 70 kilogram, wortel dan jagung manis masing-masing 40 kilogram, labu siam 80 kilogram, sawi 100 kilogram, mentimun 80 kilogram, serta kentang 10 kilogram.

Samuel berharap program MBG dapat terus berlanjut agar penyerapan hasil pertanian tetap terjaga dan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh petani.

BACA JUGA:  Depok Perkuat Penanganan Gizi, Wali Kota Supian Suri Resmikan Dapur MBG Sukamaju 03

Program MBG dinilai memberi dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani sekaligus mendukung pemenuhan gizi siswa. Dengan penyerapan hasil panen yang lebih stabil, petani di Sumba Barat Daya berharap program tersebut terus beroperasi secara berkelanjutan. ***