INDORAYATODAY.COM — Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menegaskan komitmennya untuk menuntut keadilan bagi seluruh korban agresi di wilayahnya. Dalam pidato perdana pasca-terpilihnya sebagai pemimpin tertinggi, ia menyatakan bahwa perjuangan Iran saat ini bukan sekadar membela kehormatan satu sosok pimpinan, melainkan seluruh elemen bangsa yang menjadi korban konflik.

Mojtaba menegaskan bahwa penegakan keadilan atas tumpahnya darah para martir adalah prioritas utama pemerintahannya. Ia berjanji tidak akan meninggalkan upaya tersebut hingga seluruh hak para korban terpenuhi.

“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menghentikan upaya penegakan keadilan demi darah para martir kami. Balas dendam yang kita cari tidak terbatas pada wafatnya pemimpin besar revolusi, tetapi meluas kepada setiap anggota bangsa yang dibunuh oleh musuh,” tegas Mojtaba Khamenei dalam pidatonya yang disiarkan Presstv, Kamis (12/3/2026).

Selain menyerukan ketegasan di kancah internasional, Mojtaba juga memberikan pesan penyejuk bagi rakyatnya di dalam negeri. Ia memastikan bahwa negara akan hadir untuk memulihkan kondisi para korban selamat, termasuk para penyintas yang mengalami luka-luka akibat serangan militer.

“Negara akan menjamin perawatan medis yang maksimal serta pemberian tunjangan bagi mereka yang terluka sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan atas pengorbanan mereka,” lanjutnya.

Situasi di Timur Tengah kian meruncing sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara pada 28 Februari 2026 lalu. Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu aksi balasan rudal dari Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Selama 13 hari konflik bersenjata ini berlangsung, tercatat lebih dari 1.300 orang di Iran telah kehilangan nyawa. Dampak perang ini pun kini merembet ke sektor energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu jalur distribusi minyak dan LNG dunia menuju Asia, Afrika, hingga Eropa. Tak hanya itu, sektor penerbangan internasional pun mengalami gangguan signifikan di wilayah udara Timur Tengah.

BACA JUGA:  Dua Menteri Prabowo Terbang ke China, Hadiri Dialog Strategis Tingkat Tinggi

Dunia internasional kini tengah menanti langkah diplomatik maupun militer selanjutnya dari Teheran di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, sementara ancaman krisis energi membayangi stabilitas ekonomi global akibat tersendatnya arus logistik di jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut.