INDORAYATODAY.COM — Situasi di kawasan Timur Tengah kian membara menyusul laporan mengenai rencana Amerika Serikat (AS) untuk menyiapkan opsi operasi militer darat terbatas di Iran. Langkah strategis ini mencakup potensi serangan cepat terhadap fasilitas vital, termasuk pusat ekspor minyak di Pulau Kharg dan sejumlah titik pesisir di sepanjang Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran dunia.
Berdasarkan laporan The Washington Post, Pentagon saat ini tengah mematangkan persiapan operasi yang melibatkan pasukan khusus serta infanteri konvensional. Meski bukan berupa invasi penuh, operasi ini diprediksi memakan waktu mingguan hingga bulanan. Menanggapi bocornya rencana ini, Gedung Putih menyatakan bahwa penyusunan opsi militer merupakan prosedur standar bagi militer untuk memberikan pilihan maksimal kepada presiden sebagai Panglima Tertinggi.
Washington juga telah mulai menggerakkan aset militernya. US Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi kedatangan sekitar 3.500 tentara tambahan, termasuk personel marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31, yang tiba di kawasan tersebut dengan dukungan jet tempur dan kapal amfibi. Kehadiran pasukan ini menambah kekuatan Divisi Lintas Udara ke-82 yang sebelumnya telah direncanakan untuk memperkuat posisi AS di Timur Tengah.
Teheran merespons laporan tersebut dengan peringatan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa militer Iran dalam posisi siaga penuh dan siap memberikan balasan mematikan jika tentara AS menginjakkan kaki di tanah Iran. Selain itu, muncul ancaman bahwa Iran dapat membuka front pertempuran baru di Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, melalui koordinasi dengan kelompok Houthi di Yaman jika wilayah kedaulatan mereka diganggu.
Di tengah ancaman perang yang tak terkendali, upaya diplomasi masih diupayakan oleh sejumlah negara tetangga. Pakistan dilaporkan tengah berupaya memediasi ketegangan antara Washington dan Teheran melalui pertemuan tingkat menteri luar negeri yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Mesir di Islamabad. Masyarakat internasional kini menanti apakah jalur dialog mampu meredam ambisi militer yang kian memuncak.

Tinggalkan Balasan