BOGOR, INDORAYA TODAY – Sosok H. Asdjudin Rana Bin H. Urip bukan sekadar nama dalam sejarah panjang Pemasyarakatan Indonesia. Ia adalah potret keteguhan, kegigihan, kerja keras, dan pengabdian tanpa pamrih yang menembus batas zaman.

Lahir di Tanjung Karang, Bandar Lampung , 9 Juni 1950, Asdjudin Rana mengembuskan napas terakhirnya pada 6 April 2026 pukul 12.54 WIB di RS Abdul Manap, Jambi dan dimakamkan di kampung halamanya di Metro, Lampung, Selasa 7 April 2026 di samping makam ayahanda dan ibundanya.

Perjalanan hidupnya dimulai dari titik paling sederhana. Semasa kecil, ia dikenal sebagai anak yang gigih, bahkan harus berjalan puluhan kilometer tanpa alas kaki dari Kotabumi ke Metro untuk berjualan tangkil dan pelepah pisang. Dari sanalah julukan “Sang Jenderal Tangkil” lahir, sebuah simbol perjuangan tanpa henti yang terus melekat hingga akhir hayatnya.

Pendidikan ditempuhnya dengan penuh keterbatasan, mulai dari SD dan SMP di Kotabumi, hingga SMEA di Kota Metro. Tekadnya tak berhenti di situ. Ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) angkatan VII pada 1970 dan lulus pada tahun 1973 serta meraih gelar sarjana hukum dari Universitas 17 Agustus 1945 di Banyuwangi.

Kariernya di dunia pemasyarakatan terbilang gemilang. Ia pernah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Kepala Seksi Bina Perawatan Lapas Pangkal Pinang pada 1979, hingga menjadi Direktur Bina Keamanan dan Ketertiban (Dir Kamtib) DitjenPas pada tahun 2007. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta pada 2008 hingga 2010.

Dalam setiap jabatan, Asdjudin dikenal memegang prinsip teguh: jabatan adalah amanah yang harus dipegang teguh dan hidup harus memberi manfaat bagi orang lain. Nilai itu bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata selama puluhan tahun pengabdiannya.

BACA JUGA:  Kepala Bappenas: Penanganan Persoalan Nutrisi dan Stunting Harus Jadi Gerakan Kolektif

Anak ketiganya, Irdiansyah Rana, mengenang sosok ayahnya sebagai figur sederhana yang tak pernah lelah menanamkan nilai kejujuran dan kerja keras.

“Beliau selalu berpesan agar kami tidak menghambat karier orang lain dan memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa. Itu yang kami pegang sampai sekarang. Saya pun berkata, iya Pa akan kuteruskan pengabdianmu ini,” ujar Irdi, sapaan akrab Irdiansyah Rana, di Bogor, Minggu (12/4/2026).

Pesan terakhir sang ayah juga menyentuh sisi kemanusiaan yang dalam. Ia mengingatkan anak-anaknya untuk tidak menawar dagangan pedagang kecil di pasar. Bagi Asdjudin, di sanalah ladang berkah berada, sebuah refleksi dari masa lalunya yang penuh perjuangan.

Bersama sang istri, Hj. Irhanna Yahya, ia membesarkan lima anak hingga seluruhnya menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang S2 dan S3. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk memutus rantai keterbatasan yang pernah ia rasakan.

Kepergian Asdjudin Rana meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia Pemasyarakatan Nasional. Lebih dari 250 karangan bunga dan ribuan pelayat hadir memberikan penghormatan terakhir, termasuk tokoh nasional dan pejabat tinggi negara.

Salah satu anaknya, Annisa Bridgestirana (Ketua PN Muara Bulian) bahkan berjanji akan mempersembahkan gelar Doktor yang tengah ia tempuh sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah.

“Gelar itu nanti untuk Ayahanda tercinta,” ucap Irdi, menirukan perkataan Annisa.

Kini, jejak Sang Jenderal Tangkil tak sekadar dikenang, tetapi menjadi inspirasi. Dari jalanan berdebu tanpa alas kaki hingga puncak birokrasi, Asdjudin Rana membuktikan bahwa ketekunan dan keikhlasan mampu mengubah takdir.

Pengabdian dan Darmabaktinya menjadi warisan yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Ia telah menuntaskan janji hidupnya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan bangsa.

BACA JUGA:  Rutan Depok Siap Bikin Pelaku UMKM Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Pembinaan Warga Binaan

Al Fatehah untuk Sang Jenderal Tangkil semoga Husnul Khotimah. Darmabaktimu tidak akan pernah dillupakan.