INDORAYATODAY.COM – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa industri kelapa sawit Indonesia saat ini tengah menjadi sasaran “perang persepsi” oleh negara-negara asing. Menurutnya, berbagai kampanye negatif dan isu lingkungan yang diembuskan bertujuan untuk menghambat daya saing minyak sawit di pasar global.
Sudaryono menilai, efisiensi minyak sawit Indonesia yang jauh melampaui minyak nabati lain produksi negara-negara Eropa menjadi alasan utama munculnya propaganda tersebut.
“Kenapa asing seolah-olah anti-sawit? Karena minyak nabati mereka tidak laku atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita. Jadi, sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda tersebut,” ujar Sudaryono dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Wamentan yang akrab disapa Mas Dar ini menjelaskan bahwa produktivitas sawit Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan data teknis, hasil minyak dari satu hektare kebun sawit setara dengan produktivitas delapan hingga 15 hektare kebun bunga matahari.
Menurutnya, jika negara asing benar-benar peduli pada ekologi, mereka seharusnya mendukung sawit karena lebih hemat lahan. “Seharusnya mereka investasi tanam satu hektare sawit di Indonesia, lalu reboisasi 15 hektare kebun bunga matahari di negaranya. Tapi apakah mereka mau? Tidak mau,” tegas tokoh muda asal Grobogan tersebut.
Terkait kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang diterapkan Uni Eropa, Sudaryono melihat hal tersebut sebagai upaya proteksionisme terselubung. Ia menilai regulasi deforestasi tersebut sengaja diciptakan untuk mempersulit akses pasar sawit Indonesia yang merupakan “champion” atau komoditas unggulan nasional.
Ia menyebut sawit sebagai miracle crop karena kemampuannya bertransformasi menjadi pangan hingga energi terbarukan. Saat ini, sekitar 60% pasokan sawit dunia berasal dari Indonesia, menjadikannya pilar penting ekonomi nasional.
Wamentan juga menepis tudingan bahwa pengembangan sawit selalu berujung pada kerusakan ekologi dan ancaman satwa liar. Ia menjamin bahwa setiap pembangunan kebun sawit di Indonesia telah melalui kajian ekologi yang mendalam.
“Yakinlah bahwa semua kebun sawit yang dibangun itu secara ekologi ada kajiannya. Propaganda ini sudah lama berkembang dan kita harus tetap konsisten menjaga kedaulatan komoditas kita,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan