INDORAYATODAY.COM – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan penuh untuk memproduksi vaksin, serum, dan obat-obatan hewan secara mandiri.

Penegasan ini disampaikan Wamentan usai kunjungan kerja ke Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya, Jumat (21/11/2025), yang dinilainya memiliki SDM dan fasilitas yang unggul.

Wamentan optimistis, Pusvetma mampu memenuhi 100 persen kebutuhan vaksin nasional tanpa impor, terutama untuk vaksin strategis seperti antraks dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Peningkatan Kapasitas Produksi: Wamentan Sudaryono menekankan bahwa Kementan akan membangun fasilitas baru pada tahun mendatang untuk meningkatkan kapasitas produksi Pusvetma.

Tujuannya adalah mencapai kemandirian penuh, di mana vaksin nasional dapat diproduksi 100 persen di dalam negeri.

Peran Strategis Pusvetma: Pusvetma saat ini telah memproduksi berbagai vaksin strategis. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda mencatat, pendapatan Pusvetma (sebagai BLU) meningkat signifikan hingga mencapai hampir Rp 100 miliar pada tahun ini.

Pusvetma berhasil meningkatkan produksi vaksin PMK dari 1 juta dosis pada 2024 menjadi sekitar 5 juta dosis pada 2025. Peningkatan ini berdampak signifikan pada penurunan kasus PMK dan memperkuat kesiapan pengendalian penyakit pada 2026.

Tantangan Negara Tropis: Sudaryono menilai status Indonesia sebagai negara tropis dengan karakteristik penyakit hewan yang unik merupakan tantangan sekaligus peluang.

Kondisi ini menuntut Indonesia memiliki kemandirian teknologi untuk mengembangkan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan nasional, tanpa bergantung pada impor.

BACA JUGA:  Kemlu RI Angkat Bicara Soal Baliho Prabowo di Israel: Kampanye NGO, Posisi Indonesia Jelas