INDORAYATODAY.COM  – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memastikan bahwa dampak bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera tidak akan memengaruhi secara signifikan ketahanan pangan nasional.

Dia mengklaim, dari sekitar 30.000 hektare (ha) lahan pertanian yang terdampak, hanya 4.500 ha yang mengalami gagal panen (puso).

Penegasan ini disampaikan Sudaryono menanggapi kekhawatiran publik mengenai potensi kelangkaan pangan pasca-bencana.

“Yang terdampak itu ada 30 ribuan (hektare). Yang puso [gagal panen] 4.500 (hektare), jadi maksudnya kadang kan terdampak kemudian diartikan puso, padahal tidak,” jelas Sudaryono saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (5/12).

Ia menekankan bahwa angka tersebut sangat kecil dibandingkan total lahan sawah nasional.

“Dibandingkan total sawah kita yang 7,3 juta hektare, [angka 4.500 ha] itu kecil. Jadi, kalau secara produktivitas tidak memengaruhi, tidak berpengaruh secara signifikan sampai timbul anggapan kita tidak punya pangan atau tidak punya beras. Itu salah!” tegas Sudaryono.

Sudaryono melanjutkan, tugas Kementerian Pertanian saat ini adalah mengembalikan lahan yang gagal panen tersebut agar segera produktif kembali. Oleh karena itu, Kementan telah menyiapkan bantuan berupa bibit, serta alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk petani yang terdampak.

Bahkan, ia menegaskan bahwa bantuan bibit gratis tidak hanya disiapkan untuk lahan 4.500 ha yang puso. Kementan siap jika diminta untuk memberikan bantuan bibit untuk seluruh 30.000 ha lahan yang terdampak bencana tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Wamentan juga meluruskan isu yang menuding bahwa bencana banjir dan longsor di Sumatera disebabkan oleh praktik cetak sawah yang merusak hutan.

Sudaryono membantah tudingan tersebut. Ia menjelaskan bahwa praktik cetak sawah tidak pernah dilakukan di wilayah pegunungan yang gundul.

BACA JUGA:  Donasi Dibuka! Dinsos Depok Ajak ASN Turun Tangan Bantu Korban Banjir Sumatera dan Aceh

“Kan tidak mungkin juga kita di gunung bikin sawah, tidak ada airnya. Fokusnya cetak sawah adalah untuk tanaman padi dan jagung yang memang butuh air,” tutur Wamentan.

“Sehingga, berdasarkan data yang ada, saya bisa memastikan bahwa [banjir dan longsor di Sumatera] bukan karena cetak sawah. Karena kan seolah-olah hutannya digunduli, tidak mungkin cetak sawah menggunduli hutan di gunung,” tandasnya.