INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melaporkan terjadinya lonjakan inflasi di sejumlah daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kenaikan harga tersebut dipicu terganggunya distribusi logistik pascabencana alam.

Laporan tersebut disampaikan Tito selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera dalam jumpa pers di Kementerian Dalam Negeri, Kamis (09/01/2026). Ia menyebut temuan tersebut berdasarkan Rapat Koordinasi Inflasi mingguan bersama Badan Pusat Statistik dan kementerian/lembaga terkait.

Berdasarkan data tersebut, inflasi tercatat mencapai 6,71 persen di Aceh, 5,5 persen di Sumatera Barat, dan 4,66 persen di Sumatera Utara. Di tingkat kabupaten dan kota, angka inflasi bahkan lebih tinggi.

Tito menyebut Kabupaten Aceh Tengah sebagai daerah dengan inflasi tertinggi secara nasional. Selain itu, Aceh Tamiang mencatat inflasi sebesar 7,13 persen, disusul Pasaman Barat dan wilayah Meulaboh. Untuk kategori kota, inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli yang mencapai 10,84 persen, diikuti Banda Aceh sebesar 6,1 persen dan Sibolga 5,62 persen.

Menurut Tito, lonjakan inflasi tersebut berkaitan erat dengan dampak bencana alam yang mengganggu distribusi barang dan logistik, terutama bahan pangan. Kondisi ini paling terasa di wilayah dengan keterbatasan akses, seperti Nias, yang pasokan pangannya sangat bergantung pada jalur darat dan laut dari Sibolga.

Untuk menekan inflasi, Tito telah berkoordinasi dengan Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, serta Direktur Utama Bulog guna memperkuat pasokan pangan di daerah terdampak. Penambahan suplai difokuskan pada komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi, seperti telur ayam ras, daging ayam ras, dan minyak goreng.

Penguatan distribusi juga diarahkan ke wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara bagian barat, termasuk Agam, Pasaman, Tanah Datar, serta wilayah Nias.

BACA JUGA:  Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik KPAI soal Program Panca Waluya: 'Yuk Kerja Bareng'

“Kalau pasokan komoditas-komoditas ini didorong, inflasi otomatis akan turun,” tegas Tito.

Secara nasional, inflasi tercatat meningkat dari 2,72 persen menjadi 2,92 persen. Meski naik, angka tersebut masih berada dalam batas aman karena target inflasi nasional ditetapkan maksimal 3,5 persen.

Selain faktor bencana, Tito menyebut kenaikan inflasi juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan selama periode Natal dan Tahun Baru. Kenaikan biaya transportasi serta tingginya aktivitas masyarakat dinilai sebagai faktor musiman yang hampir selalu terjadi setiap akhir dan awal tahun.

Pemerintah memastikan akan terus memantau kondisi inflasi dan memperkuat distribusi pangan agar stabilitas harga di daerah terdampak dapat segera dipulihkan. ***