INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Ekonom Universitas Indonesia Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai deflasi yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Januari 2026 merupakan dampak dari percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana banjir dan longsor di wilayah tersebut.

Pandangan tersebut disampaikan Fithra dalam merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ketiga provinsi terdampak bencana mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026.

BPS mencatat Aceh mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Sementara itu, Sumatra Barat mencatat deflasi 0,75 persen dan Sumatra Utara sebesar 1,15 persen. Menurut Fithra, penurunan harga tersebut tidak terlepas dari membaiknya distribusi logistik seiring pulihnya infrastruktur penghubung.

“Inflasi itu bisa diturunkan salah satunya lewat jalur logistik. Kalau logistiknya lancar, berarti lalu lintas barang lebih tinggi. Itu bisa menjelaskan kenapa mereka inflasinya bisa rendah sekali, atau bahkan deflasi,” ujar Fithra, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan, bencana banjir dan longsor sebelumnya telah merusak sejumlah infrastruktur krusial, seperti jalan dan jembatan. Kerusakan tersebut menyebabkan pasokan barang kebutuhan pokok tersendat, sehingga mendorong kenaikan harga di wilayah terdampak.

Kondisi itu tercermin dalam data inflasi Desember 2025, atau sekitar satu bulan setelah bencana terjadi. Pada periode tersebut, Aceh mencatat inflasi sebesar 3,6 persen, Sumatra Utara 1,66 persen, dan Sumatra Barat 1,48 persen.

Fithra menyebut, pemerintah kemudian mempercepat pemulihan infrastruktur dengan membangun jembatan darurat, seperti jembatan armco dan bailey, serta melakukan perbaikan ruas jalan nasional.

Langkah tersebut membuat konektivitas antarwilayah kembali pulih dan distribusi logistik berjalan lebih lancar.
Seiring normalnya pasokan barang, tekanan inflasi di daerah terdampak perlahan mereda hingga berujung pada deflasi pada Januari 2026.

BACA JUGA:  Kabar Baik, Angkatan Kerja Muda di Depok Kian Bertambah

“Dengan kata lain, pemerintah saat itu melakukan aktivitas pembenahan supply dan membantu masyarakat terdampak. Jadi, kalau misalnya ada pertanyaan ‘pemerintah ke mana saja?’, nah itu justru buktinya adalah inflasi yang turun,” kata Fithra.

Selain faktor infrastruktur, ia juga menilai penyaluran bantuan pemerintah turut berkontribusi terhadap penurunan harga. Bantuan berupa makanan dan kebutuhan pokok membuat masyarakat tidak perlu membeli barang di pasar, sehingga menekan permintaan.

“Bantuan berupa makanan dan kebutuhan pokok yang masuk kategori volatile food membuat masyarakat tidak perlu membeli di pasar. Ketika permintaan turun, harga pun relatif lebih terkendali,” tutupnya.

Deflasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Januari 2026 dinilai mencerminkan efektivitas pemulihan infrastruktur dan distribusi bantuan pascabencana. Perbaikan konektivitas logistik dan intervensi pemerintah disebut berperan penting dalam meredam lonjakan harga di wilayah terdampak. ***