DEPOK, INDORAYA TODAY – Tradisi Ngaduk Dodol kembali diangkat sebagai simbol kebersamaan dalam rangkaian Lebaran Depok 2026. Bagi masyarakat Betawi Depok, kehadiran dodol saat Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang tak terpisahkan.

Dodol dikenal sebagai makanan khas berwarna coklat kehitaman dengan cita rasa manis dan aroma kelapa yang kuat. Selain disajikan langsung, dodol juga kerap digoreng setelah diiris kecil-kecil. Keunggulan lainnya, makanan tradisional ini memiliki daya tahan lama, bahkan tetap lezat meski disimpan lebih dari satu bulan.

Tak hanya sebagai hidangan, dodol juga memiliki makna sosial yang kuat. Dalam tradisi Betawi Depok, dodol menjadi bawaan wajib bagi generasi muda saat bersilaturahmi ke rumah kerabat yang lebih tua usai salat Id.

Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah, mengatakan bahwa tradisi Ngaduk Dodol dihadirkan kembali sebagai upaya melestarikan budaya yang mulai ditinggalkan.

“Ngaduk dodol bukan sekadar memasak, tetapi menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Depok yang harus terus dijaga,” ujar Hamzah, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal dan mencintai tradisi lokal.

“Melalui Lebaran Depok, kami ingin mengenalkan kembali nilai-nilai budaya Betawi, termasuk tradisi ngaduk dodol agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.

Lebaran Depok 2026 sendiri akan berlangsung selama lima hari, mulai 5 hingga 9 Mei 2026. Rangkaian acara akan dibuka serentak di tiga wilayah, yakni Tapos, Cipayung, dan Sawangan.

Selanjutnya, berbagai kegiatan budaya dan hiburan akan dipusatkan di Alun-alun Grand Depok City (GDC), yang diproyeksikan menjadi pusat kemeriahan perayaan tahun ini.

BACA JUGA:  Wali Kota Depok Ingatkan ASN: Jadilah “Orang Tua” bagi Masyarakat