INDORAYATODAY.COM – Dunia astronomi tengah bersiap menyambut fenomena alam luar biasa yang diprediksi terjadi pada 2 Agustus 2027 mendatang. Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan melintasi sejumlah wilayah di belahan dunia ini diklaim sebagai gerhana dengan durasi terlama di abad ke-21.

Peristiwa ini menjadi perhatian besar para ilmuwan dan astronom global karena durasi totalitasnya yang mencapai 6 menit 23 detik pada puncaknya. Sebagai perbandingan, fenomena serupa pada April 2024 lalu hanya mencatatkan durasi puncak selama 4 menit 28 detik.

Durasi panjang ini memungkinkan korona matahari terlihat jelas dengan mata telanjang bagi mereka yang berada di jalur lintasan totalitas. Kondisi astronomi langka ini dipicu oleh posisi Bulan yang berada pada jarak terdekat dengan Bumi (perigee), sementara Matahari berada pada titik terjauh (aphelion). Walhasil, piringan Bulan tampak lebih besar dan mampu menutupi Matahari dalam waktu yang lebih lama dari biasanya.

Berdasarkan data astronomi, jalur gerhana matahari total 2027 akan bermula dari Maroko dan wilayah selatan Spanyol. Fenomena kegelapan di siang hari ini kemudian bergerak melintasi Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, hingga merambah wilayah Arab Saudi, dan berakhir di pesisir Somalia serta Yaman.

Durasi terlama dilaporkan akan terjadi di wilayah Mesir, tepatnya di Luxor dan Aswan. Sementara itu, sebagian besar wilayah Eropa, Asia, dan Afrika diperkirakan hanya akan dapat mengamati fenomena ini sebagai gerhana matahari sebagian.

Sebelum menuju peristiwa besar di tahun 2027, bumi akan lebih dulu mengalami gerhana matahari cincin yang melintasi Antartika pada 17 Februari 2026. Fenomena yang dikenal dengan sebutan “cincin api” ini akan menjadi pembuka rangkaian peristiwa langit dalam dua tahun ke depan.

BACA JUGA:  Catat Waktunya, Delapan Fenomena Langit Hiasi Bulan April 2026

Selain itu, pada 12 Agustus 2026, sebuah gerhana matahari total juga dijadwalkan melintasi wilayah Greenland timur, Islandia barat, dan Spanyol utara. Bagi Spanyol, ini akan menjadi momen langka karena wilayah tersebut akan mengalami dua kali gerhana total dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Para ahli astronomi mengingatkan masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena ini untuk selalu menggunakan alat pelindung mata khusus. Pengamatan langsung dengan mata telanjang sangat tidak disarankan karena risiko kerusakan permanen pada retina mata akibat radiasi sinar ultraviolet yang tinggi.