INDORAYATODAY.COM – Hasil survei terbaru yang menunjukkan tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Presiden Prabowo Subianto mencapai angka 79,9 persen dinilai sebagai modal politik yang sangat signifikan. Pengamat politik nasional, Adi Prayitno, menyebut angka tersebut menempatkan sang petahana dalam posisi elektoral yang sangat kuat menjelang Pilpres 2029.
Survei yang dirilis oleh Indikator Politik Indonesia tersebut merekam persepsi publik pada periode 15-21 Januari 2026. Menurut Adi, tingginya angka kepuasan ini merupakan parameter utama dalam mengukur peluang keberlanjutan kepemimpinan seorang petahana.
Adi menilai, dengan tingkat kepuasan yang hampir menyentuh angka 80 persen, langkah Prabowo untuk memenangkan periode kedua akan jauh lebih ringan. Ia bahkan memberikan kiasan bahwa dengan angka tersebut, upaya memenangkan pertarungan politik dapat dilakukan dengan sangat rileks.
“Dalam logika statistik, dengan tingkat kepuasan 80 persen, itu adalah bekal yang cukup signifikan bagi petahana untuk mencalonkan diri kembali. Bahkan secara ekstrem, dengan angka setinggi itu, petahana tidak memerlukan kampanye yang terlalu agresif untuk menang kembali,” ujar Adi dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Tingginya apresiasi masyarakat terhadap kinerja pemerintahan saat ini juga dianggap sebagai pemicu mengalirnya dukungan dari berbagai partai politik lebih awal. Adi memandang fenomena ini sebagai langkah rasional dari partai-partai untuk merapat pada kekuatan elektoral yang sudah teruji.
Dukungan tersebut, lanjut Adi, juga memberikan keleluasaan bagi Prabowo dalam menentukan mitra koalisi maupun sosok calon wakil presiden (cawapres) di masa depan.
Tingginya modal politik pribadi Prabowo diprediksi akan mengubah kriteria pemilihan sosok pendamping. Jika biasanya cawapres dipilih untuk mendongkrak elektabilitas (vote getter), maka dalam posisi saat ini, Prabowo dinilai lebih membutuhkan sosok yang mengedepankan stabilitas.
“Prabowo sebenarnya tidak lagi terlalu bergantung pada cawapres dengan daya ungkit elektoral tinggi. Kriteria utamanya kini bergeser pada faktor loyalitas, kemampuan konsolidasi politik, dan akseptabilitas di berbagai kelompok masyarakat,” pungkas Adi.
Kondisi ini diprediksi akan membuat peta politik menuju 2029 menjadi lebih stabil, mengingat dominasi elektoral yang saat ini masih terkonsentrasi pada sosok petahana.

Tinggalkan Balasan