INDORAYATODAY.COM – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Prof. Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) bukan sekadar deretan angka peringkat. Instrumen ini merupakan cerminan kapasitas kolektif bangsa dalam menghadapi kompetisi global yang kian dinamis.
Dalam peluncuran IDSD 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Selasa (24/2), Rachmat menekankan bahwa daya saing nasional bersifat dasar; ia bertumpu pada kekuatan provinsi, kabupaten, hingga level individu di desa.
“Daya saing nasional tidak berdiri sendiri. Ia dibangun dari bawah. Jika satu sektor lemah, maka seluruh ekosistemnya—mulai dari peneliti hingga pengambil kebijakan—harus dievaluasi,” tegas Rachmat.
Rachmat mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi stabil di angka lima persen belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, pertumbuhan ekonomi harus dipacu lebih tinggi tanpa mengabaikan aspek pemerataan.
Ia menyoroti tantangan di kawasan timur Indonesia yang masih memiliki indeks inovasi rendah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak boleh menyisakan ketimpangan yang lebar. Di sinilah peran riset dan inovasi menjadi krusial untuk meningkatkan produktivitas atau Total Factor Productivity (TFP).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bappenas memberikan tiga arahan strategis bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN):
Berorientasi Dampak: Riset harus diarahkan pada hasil (outcome) sosial-ekonomi yang terukur.
Penyelarasan Agenda: Agenda riset wajib selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan industrialisasi.
Hilirisasi Teknologi: Memperkuat intermediasi agar hasil riset diadopsi oleh industri, pemerintah daerah, dan masyarakat luas.
“Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium atau publikasi ilmiah. Dampaknya harus terasa di lapangan, terutama di wilayah terluar, demi mendukung ketahanan pangan, energi, dan air,” tuturnya.
Rachmat berharap IDSD dapat menjadi alat navigasi bagi pemerintah daerah untuk mengidentifikasi potensi dan titik lemah masing-masing. Dengan sinergi antara perencanaan dan riset, Indonesia diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan inklusif dalam dua dekade mendatang.

Tinggalkan Balasan