DEPOK, INDORAYA TODAY – Tradisi membawa rantang atau nyorog saat Hari Raya Idul Fitri masih hidup di tengah masyarakat Depok. Lebih dari sekadar mengantar makanan, tradisi khas Betawi ini menyimpan filosofi mendalam tentang penghormatan, kebersamaan, dan pengikat hubungan keluarga lintas generasi.
Nyorog dilakukan dengan cara memberikan bingkisan kepada keluarga yang lebih tua, seperti orang tua, abang, atau mpok, serta kerabat dan tetangga. Bingkisan yang dibawa beragam, mulai dari kebutuhan pokok hingga hidangan khas Betawi seperti gabus pucung, sayur babanci, dan soto tangkar.
Dalam praktiknya, nyorog bukan sekadar aktivitas berbagi. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua, sekaligus bentuk kepedulian sosial dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Nilai ini menjadikan rantang bukan hanya wadah makanan, melainkan medium penyampai rasa hormat dan kasih sayang.
Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah, mengatakan bahwa tradisi nyorog memiliki akar kuat dalam budaya Betawi dan telah diwariskan secara turun-temurun. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mulai jarang dilakukan oleh generasi muda.
“Melalui Lebaran Depok, kami ingin terus menghidupkan tradisi nyorog agar tidak hilang. Ini bukan hanya budaya, tetapi juga identitas masyarakat Depok,” kata Hamzah, Jumat (24/4/2026).
Ia menegaskan, nyorog memiliki makna penting dalam mempererat silaturahmi, terutama bagi keluarga yang jarang bertemu. Tradisi ini menjadi momen untuk saling mengunjungi, berbagi, dan menjaga kedekatan emosional antaranggota keluarga.
Karena itu, tradisi rantangan atau nyorog kembali diangkat dalam rangkaian kegiatan Lebaran Depok sebagai upaya pelestarian budaya. Selain mengenalkan kepada generasi muda, kegiatan ini juga menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang telah lama hidup di masyarakat.
Lebaran Depok 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 5 hingga 9 Mei 2026. Rangkaian acara akan dibuka serentak di wilayah Tapos, Cipayung, dan Sawangan.
Selanjutnya, berbagai kegiatan budaya akan dipusatkan di Alun-alun Grand Depok City (GDC), menghadirkan ragam tradisi lokal yang sarat makna, termasuk nyorog sebagai simbol kuat kebersamaan warga Depok.
Momentum ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga ruang edukasi budaya yang mampu menjaga warisan Betawi tetap hidup di tengah modernisasi.

Tinggalkan Balasan