INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menilai Indonesia berhasil melewati fase kerusuhan pada akhir Agustus dan awal September 2025 tanpa dampak serius. Menurutnya, negara mampu memitigasi risiko keamanan dan ekonomi, berbeda dengan sejumlah negara lain yang mengalami kerugian besar akibat kerusuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Listyo Sigit Prabowo dalam Rilis Akhir Tahun 2025 Polri di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025). Kapolri menyoroti pengalaman beberapa negara yang mengalami kerusuhan dengan dampak luas terhadap stabilitas nasional dan perekonomian.

Sigit mencontohkan kerusuhan di Nepal pada September 2025 yang dipicu gelombang protes generasi muda dan tuntutan antikorupsi. Peristiwa tersebut berujung pada pelarangan 26 platform media sosial dan menimbulkan korban jiwa.

“Dampaknya sangat serius. Sebanyak 72 orang meninggal dunia dan hampir setengah Produk Domestik Bruto Nepal terdampak,” ujar Sigit.

Ia menambahkan, nilai tukar mata uang Nepal melemah 0,13 persen, sektor perhotelan dan otomotif mengalami kerugian triliunan rupiah, serta pertumbuhan ekonomi merosot hingga di bawah 1 persen. Dari sisi keamanan, kerusuhan diwarnai vandalisme, pembakaran, penjarahan, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan media.

Kapolri juga menyinggung kondisi di Myanmar, menyusul meningkatnya operasi perebutan wilayah kelompok perlawanan pada 11 Desember 2025. Menurutnya, konflik tersebut berdampak langsung pada aktivitas masyarakat dan perekonomian negara.

“Ekonomi Myanmar terdampak signifikan, dengan defisit anggaran mencapai 6,9 persen dari PDB, serta muncul ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan negara,” kata Sigit.

Selain itu, Sigit menyoroti kerusuhan di Brasil pada 28 Oktober 2025, ketika baku tembak antara polisi Rio de Janeiro dan kartel narkoba menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.

“Sebanyak lima petugas dan 121 warga meninggal dunia. Dampaknya melumpuhkan perekonomian, pusat perbelanjaan tutup, transportasi terganggu, hingga runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum,” ujarnya.

BACA JUGA:  Dasco Hadiri Bukber di NasDem Tower: Jalin Silaturahmi, Ada Pak JK-Mas Anies

Berangkat dari perbandingan tersebut, Sigit menyampaikan rasa syukur karena Indonesia mampu mengendalikan situasi saat terjadi kerusuhan yang dikenal sebagai “Agustus Kelabu” dan “September Gelap” 2025.

“Alhamdulillah Indonesia mampu melewati tantangan tersebut. Peristiwa dapat segera kita atasi dan dampak serius bisa dimitigasi, sehingga tidak terjadi seperti di negara-negara lain,” kata Sigit.

Kapolri menilai keberhasilan mitigasi kerusuhan 2025 menjadi pelajaran penting bagi penguatan sistem keamanan nasional. Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa kegagalan mengelola konflik sosial dapat berdampak luas terhadap ekonomi, stabilitas, dan kepercayaan publik. Indonesia, menurutnya, perlu terus memperkuat langkah pencegahan agar stabilitas tetap terjaga.