INDORAYATODAY.COM  – Korban jiwa akibat agresi militer Amerika Serikat (AS) ke ibu kota Venezuela, Karakas, dilaporkan terus meningkat. Hingga Kamis (8/1/2026), otoritas setempat mengonfirmasi jumlah korban tewas kini mencapai sedikitnya 100 orang.

Serangan mendadak yang terjadi pada 3 Januari lalu tersebut tidak hanya menyasar instalasi strategis, tetapi juga berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyampaikan duka cita mendalam atas jatuhnya korban dalam operasi militer tersebut.

“Tercatat 100 orang telah gugur,” ujar Cabello dalam pernyataan resmi yang disiarkan oleh saluran berita Telesur, Kamis (8/1/2026).

Sebelumnya, laporan dari media internasional The New York Times yang mengutip sumber di pemerintahan Venezuela menyebutkan angka kematian awal mencapai 80 orang. Korban terdiri dari pasukan pengawal kepresidenan serta sejumlah warga sipil yang merupakan staf administrasi di istana kepresidenan.

Selain korban tewas, Cabello menambahkan bahwa Presiden Maduro dan Cilia Flores turut mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Situasi di Karakas dilaporkan masih dalam ketegangan tinggi pasca-operasi militer yang memicu kecaman dari berbagai pihak terkait kedaulatan negara.

Hingga kini, masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi di Venezuela, terutama terkait kondisi kemanusiaan dan kepastian nasib jajaran pimpinan negara yang ditahan oleh pihak militer Amerika Serikat.

BACA JUGA:  Wakil Wali Kota Bekasi Dorong Pramuka Lahirkan Generasi Tangguh dan Berkarakter