INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Kinerja industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan tahunan tertinggi dalam 13 tahun terakhir pada 2025. Capaian ini menempatkan sektor manufaktur sebagai penopang utama ekonomi nasional sekaligus membuka peluang reindustrialisasi untuk memperkuat produktivitas dan daya saing jangka panjang.

Dalam pengumuman kinerja perekonomian nasional, Kamis (5/2/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen sepanjang 2025. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 5,30 persen dan sumbangan 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyebut pertumbuhan industri pengolahan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2012, ketika sektor ini tumbuh 5,62 persen. Lebih dari itu, untuk pertama kalinya sejak 2011, laju pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini memberi sinyal jelas bahwa Indonesia diharapkan kembali memasuki fase reindustrialisasi, bukan sekadar pemulihan, tetapi penguatan kembali basis produksi nasional,” ujar Christiantoko di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Ia menilai, capaian tersebut menjadi titik balik penting bagi strategi pembangunan ekonomi. Menurutnya, kembalinya industri pengolahan tumbuh lebih cepat dari ekonomi nasional menunjukkan fondasi produksi mulai menguat setelah periode pelemahan dalam satu dekade terakhir.

Christiantoko menekankan, momentum positif ini perlu dijaga agar tidak bersifat sementara. Reindustrialisasi, kata dia, bukan hanya soal angka pertumbuhan, melainkan membangun ekosistem industri yang lebih produktif, inovatif, dan terintegrasi dengan rantai nilai global.

Ia menilai, investasi jangka panjang di teknologi dan sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan ke depan. Dorongan hilirisasi, percepatan adopsi teknologi, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja dinilai penting agar industri pengolahan mampu naik kelas dan berdaya saing.

Peran strategis industri pengolahan juga tercermin dari kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja. Data ketenagakerjaan menunjukkan, pada November 2025 sektor ini menyerap 20,51 juta orang atau sekitar 13,87 persen dari total tenaga kerja nasional sebanyak 147,91 juta orang. Angka tersebut menempatkan industri pengolahan sebagai salah satu dari tiga sektor penyerap tenaga kerja terbesar, di bawah pertanian dan perdagangan.

BACA JUGA:  OJK Siapkan Langkah Perkuat IHSG, Perbaiki Transparansi Saham Merespons Masukan MSCI

Dengan kontribusi tersebut, penguatan industri pengolahan diyakini berdampak langsung ke masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja dan efek pengganda ke sektor logistik, perdagangan, serta jasa pendukung. Meski tantangan seperti produktivitas, kualitas SDM, adopsi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik masih ada, pertumbuhan pada 2025 dinilai membuka peluang strategis menjadikan reindustrialisasi sebagai agenda besar untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah. ***