INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS. Level tersebut dinilai sebagai batas psikologis penting bagi pelaku pasar, meski sejumlah analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding perubahan kondisi ekonomi domestik.

Menurutnya, rupiah sempat diperdagangkan di sekitar level tersebut sebelum akhirnya kembali sedikit stabil di bawahnya.

“Rupiah memang sempat diperdagangkan di sekitar 17.000 per dolar AS pagi ini sebelum sedikit stabil di bawahnya. Tekanan ini cukup besar karena 17.000 adalah batas psikologis bagi pasar,” ujar David, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh berbagai sentimen global, termasuk penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengambil sikap risk-off, yakni mengurangi eksposur investasi di negara berkembang.

“Dalam kondisi seperti ini biasanya investor mengurangi eksposur di emerging markets, termasuk Indonesia. Jadi pergerakan rupiah sekarang lebih banyak dipengaruhi sentimen global,” jelasnya.

Meski mengalami tekanan, David menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil.

Sejumlah indikator makro menunjukkan kinerja ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang positif. Tingkat inflasi, misalnya, masih berada dalam kisaran sasaran sekitar 2,5 persen untuk periode 2026–2027.

Di sektor perbankan, penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat tumbuh sekitar 9,96 persen secara tahunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 5,11 persen, yang dinilai mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang cukup kuat.

BACA JUGA:  Wawali Bekasi Apresiasi Kinerja Bank BJB, Dorong Perkuat Ekonomi Daerah

“Secara makro tidak ada perubahan drastis yang menjelaskan pelemahan rupiah sedalam ini. Analogi sederhananya, rumahnya masih berdiri dengan struktur yang kuat, tetapi harga pasarnya sedang turun karena sentimen global,” kata David.

David juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dinilai berpotensi memperkuat stabilitas nilai tukar.

Melalui kebijakan tersebut, sebagian hasil ekspor sumber daya alam diwajibkan disimpan lebih lama di dalam negeri sehingga likuiditas dolar dalam sistem keuangan domestik dapat meningkat.

Menurutnya, stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan ekonomi, termasuk koordinasi antara pemerintah dan bank sentral, penguatan pasar valuta asing domestik, serta peningkatan arus devisa dari ekspor dan investasi.

“Dalam situasi global yang sangat volatil seperti sekarang, stabilitas rupiah bukan hanya soal supply dan demand dolar, tetapi juga soal kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi,” pungkasnya. ***