INDORAYATODAY.COM – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono pasang badan membela komoditas kelapa sawit Indonesia dari berbagai serangan kampanye negatif negara asing.

Sudaryono menegaskan bahwa sawit merupakan komoditas unggulan atau miracle crop yang efisiensinya jauh melampaui minyak nabati produksi Eropa.

Menurut pria yang akrab disapa Mas Dar ini, narasi negatif yang selama ini dialamatkan pada sawit Indonesia sebenarnya berakar dari kekhawatiran negara asing terhadap daya saing produk mereka sendiri. Minyak sawit dinilai lebih efisien dan kompetitif dibandingkan minyak nabati lain, seperti bunga matahari.

“Jadi Anda semua sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda. Kenapa asing seolah-olah anti-sawit sama kita? Karena minyak nabati mereka tidak laku atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita,” ujar Sudaryono dalam keterangannya, Rabu (13/5/2024).

Sudaryono memaparkan perbandingan produktivitas yang mencolok. Hasil minyak dari satu hektare kebun sawit, kata dia, setara dengan produksi minyak dari delapan hingga 15 hektare kebun bunga matahari. Secara ekologis, penggunaan lahan untuk sawit jauh lebih hemat dan efektif.

“Lantas kenapa sawit seolah-olah jahat? Jika bangsa lain peduli dengan ekosistem dunia, harusnya mereka investasi tanam sawit satu hektare di sini dan mereboisasi 15 hektare kebun bunga matahari di negaranya. Tapi mereka tidak mau,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang dianggap sebagai hambatan non-tarif bagi produk sawit Indonesia untuk menembus pasar global. Ia menilai aturan deforestasi tersebut sengaja dibuat untuk mempersulit masuknya sawit Indonesia karena faktor efisiensi tadi.

Indonesia saat ini memegang peranan vital sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan penguasaan pasar mencapai 60 persen di tingkat global. Industri ini tidak hanya menjadi penopang ekspor nasional, tetapi juga menyerap jutaan tenaga kerja.

BACA JUGA:  Wamentan Sudaryono Optimistis Indonesia Mandiri Vaksin Hewan, Gandeng FKH Perguruan Tinggi

Menanggapi isu lingkungan yang kerap membayangi sektor ini, Sudaryono menepis anggapan bahwa seluruh pengembangan sawit berdampak buruk bagi alam. Ia memastikan bahwa setiap pembangunan kebun sawit di tanah air tetap melalui kajian ekologi yang mendalam.

“Sawit ini champion-nya Indonesia. Bisa jadi energi, bisa jadi pangan. Yakinlah bahwa semua kebun sawit yang dibangun itu secara ekologi ada kajiannya,” pungkas Wamentan.