INDORAYATODAY.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Jawa Barat, menargetkan proyek pembangunan jembatan penghubung antara wilayah Paledang dan Pasir Jaya rampung pada November 2026. Kepastian ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat setelah menanti kepastian infrastruktur tersebut selama lebih dari lima tahun.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengungkapkan bahwa tahapan fisik pembangunan jembatan akan mulai digulirkan pada akhir Mei 2026. Berdasarkan kontrak kerja yang telah disepakati, masa pengerjaan proyek ini dipatok selama 180 hari kalender.

“Perlu diketahui bahwa ini ikhtiar panjang, lebih dari lima tahun. Pemenang lelang sudah ada dan penting diketahui masyarakat. Harus tersosialisasikan,” kata Jenal dalam rapat koordinasi di Balai Kota Bogor, Sabtu (23/5/2026).

Jenal menjelaskan, keberadaan jembatan ini sangat krusial untuk memotong rute dan menyelesaikan persoalan aksesibilitas yang selama ini dikeluhkan oleh warga di kedua kelurahan. Kendati demikian, berdasarkan hasil serap aspirasi bersama tokoh masyarakat dan warga setempat, infrastruktur penghubung ini nantinya tidak akan dioperasikan secara bebas selama penuh 24 jam.

Langkah pembatasan operasional tersebut sengaja diambil demi mengantisipasi potensi tindak kriminalitas dan menjaga kondusivitas lingkungan di sekitar jembatan pada malam hari.

“Jadi jembatan nanti tidak dibuka 24 jam. Kecuali dalam kondisi darurat, seperti ada masyarakat yang sakit atau meninggal dunia,” ujar Wakil Wali Kota menerangkan.

Selain masalah keamanan, Pemkot Bogor juga mengakomodasi sejumlah masukan dari warga. Di antaranya mengenai keterlibatan tenaga kerja lokal, pemberdayaan pelaku UMKM di sekitar lokasi proyek selama masa konstruksi, hingga pemasangan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) yang memadai di sepanjang area jembatan.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Chusnul Rozaqi, memaparkan detail teknis jembatan. Konstruksi utama akan menggunakan rangka baja dengan ketinggian struktur mencapai 2,7 meter, serta jarak antartitik buhul sepanjang 2,40 meter.

BACA JUGA:  Bupati Bogor Tekankan Penguatan Sinergi Kamtibmas Usai Pergantian Kapolresta Bogor Kota

Chusnul tidak menampik bahwa tim di lapangan harus menghadapi tantangan medan yang cukup berat. Salah satunya adalah adanya perbedaan elevasi (ketinggian tanah) sekitar tiga meter antara kedua wilayah, sehingga desain bentang jembatan terpaksa dibuat agak menurun ke arah Kelurahan Paledang.

Tantangan lainnya terletak pada sirkulasi logistik, di mana proses mobilisasi dan pengangkutan material besi baja berukuran besar membutuhkan ruang manuver yang cukup luas di sekitar lokasi pemuatan.

“Sesuai kontrak, pengerjaan dimulai pada 29 Mei dan selesai pada 25 November. Mudah-mudahan 180 hari ini bisa dimaksimalkan, meskipun medannya cukup berat,” pungkas Chusnul optimis.