INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Ketua LPM Kelurahan Pondok, Petir M Ariyanto menyebut budidaya maggot di wilayah RW 5 mulai menjadi salah satu solusi pengurangan sampah organik di lingkungan masyarakat.

Program tersebut bahkan disebut telah berjalan selama dua tahun terakhir dan terus dikembangkan bersama warga.

Ariyanto mengatakan edukasi pengelolaan sampah terus dilakukan melalui forum rutin RT dan RW yang digelar setiap bulan di kelurahan.

Dalam forum tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah serta bahaya membakar sampah sembarangan yang dapat memicu gangguan pernapasan.

Menurut dia, salah satu hasil nyata dari sosialisasi tersebut adalah berkembangnya budidaya maggot di RW 5.

“Di RW 5 sudah ada budidaya maggot, di mana sampah-sampah dipilah, nanti yang organik dibuat pakan maggot,” ujar Ariyanto, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan sampah non-organik dari warga juga mulai dikelola melalui bank sampah yang sudah berjalan di beberapa RW.

Ke depan, pihak kelurahan berharap seluruh RW di Pondok Petir memiliki bank sampah mandiri.

Selain budidaya maggot, pengelolaan sampah organik juga diperkuat melalui program Ember Biru yang saat ini telah didistribusikan ke RW 6, RW 7, dan RW 8.

Masing-masing RW mendapatkan sekitar 60 ember untuk menampung sampah organik rumah tangga.

Sampah tersebut kemudian diambil pihak kelurahan dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan maggot.

Menurut Ariyanto, program tersebut cukup efektif membantu mengurangi volume sampah warga.

“Per minggu itu sekitar 2 sampai 5 kuintal sudah berkurang di tiap-tiap RW,” katanya.

Ia berharap kesadaran masyarakat dalam memilah sampah terus meningkat sehingga pengelolaan sampah berbasis lingkungan dapat berjalan lebih maksimal.

Budidaya maggot di Pondok Petir mulai berkembang sebagai solusi pengurangan sampah organik sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di tingkat RW. ***

BACA JUGA:  ‎8 Pejabat RSUD ASA Pelesir ke Singapura-Malaysia, Pulang Mendadak Setelah Bocor di Medsos