INDORAYATODAY.COM – Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Ananta Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani membeberkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyambut positif penurunan harga minyak dunia imbas kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Presiden berharap penurunan harga komoditas energi tersebut dapat menciptakan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi nasional.

Hal tersebut diungkapkan Rosan seusai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan bersama bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/6/2026) malam.

“Kita harus optimistis ke depannya perekonomian kita akan berjalan baik dan maju. Apalagi dengan kesepakatan Presiden Donald Trump dan pemerintah Iran, harga minyak sudah menurun di bawah US$ 80 per barel. Harapannya ini memberikan sentimen positif terhadap perekonomian kita,” ujar Rosan.

Dorong Kedaulatan Pangan dan Peran Strategis Himbara

Selain membahas sektor energi, Rosan menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus pada sektor pangan. Kepala Negara menegaskan agar perekonomian Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), yang didukung penuh oleh pembiayaan dari sektor perbankan domestik, terutama bank BUMN.

Dalam hal ini, bank Himbara dinilai memegang peran yang sangat strategis terhadap pertumbuhan ekonomi dan realisasi kebijakan nasional ke depan. Berdasarkan data, kapitalisasi pasar gabungan seluruh bank Himbara saat ini mencapai sekitar Rp 1.100 triliun, atau mencerminkan sekitar 10% dari total nilai seluruh perusahaan nasional.

Dampak Kesepakatan Damai AS-Iran

Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump dan pihak Iran resmi menandatangani kesepakatan damai di Versailles pasca-KTT G7. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka kembali akses Selat Hormuz yang sempat memicu ketegangan pasokan energi global.

BACA JUGA:  Diplomasi Sepak Bola: Presiden Prabowo Bertemu Zinedine Zidane, Bahas Fasilitas Lapangan Sekolah

Langkah diplomasi ini memunculkan optimisme baru di pasar global setelah konflik selama lebih dari tiga bulan terakhir sempat mengguncang pasar energi dan memicu tekanan inflasi dunia.

Meski demikian, sentimen positif pasar saat ini masih tertahan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) sebelum akhir tahun, yang kini dipimpin oleh kepala baru mereka, Kevin Warsh.