INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Hampir separuh wilayah di Jawa Barat kini telah memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat mencatat sebanyak 20 zona musim telah mengalami musim kemarau hingga dasarian II Juni 2026, dengan puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Edi Wibowo, mengatakan wilayah yang telah memasuki musim kemarau tersebar di sejumlah daerah, antara lain Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, hingga Kabupaten Bandung.

“Berdasarkan update terakhir yang kami terima dari Stasiun Klimatologi Jawa Barat, yaitu dasarian II Juni 2026, di Jawa Barat sudah sebanyak 20 zona musim yang telah memasuki musim kemarau,” ujar Edi saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Menurut dia, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang karena dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas sedang hingga kuat.

“Berlangsung lebih lama. Sesuai prediksi awal, memang ada pengaruh El Nino moderat sampai kuat. Kemungkinan musim keringnya akan lebih panjang,” katanya.

Meski demikian, BMKG masih terus memantau perkembangan kondisi atmosfer karena perubahan cuaca dapat terjadi mengikuti dinamika alam.

BMKG memprediksi kawasan utara Jawa Barat akan mengalami kondisi paling kering selama musim kemarau. Daerah yang berpotensi menghadapi kekeringan lebih tinggi meliputi Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon.

Sementara itu, wilayah Bandung Raya diperkirakan mulai memasuki masa peralihan musim pada akhir September hingga awal Oktober yang ditandai dengan mulai turunnya hujan.

“Oktober itu sebetulnya sudah masuk masa peralihan. Hujan diperkirakan mulai muncul pada akhir September atau awal Oktober untuk wilayah Bandung Raya,” ujar Edi.

BACA JUGA:  Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin Kembangkan Fitur Aduan Inklusif INARA

Edi menjelaskan salah satu ciri puncak musim kemarau adalah meningkatnya perbedaan suhu antara siang dan malam. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG selama Juni 2026, suhu minimum di Kota Bandung mencapai 18 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum mencapai 33 derajat Celsius.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya tutupan awan sehingga panas lebih cepat terlepas pada malam hari dan membuat udara terasa lebih dingin.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mulai mengantisipasi dampak musim kemarau dengan menghemat penggunaan air serta mempercepat pembangunan jaringan air bersih sebagai langkah mitigasi terhadap potensi kekeringan.