INDORAYATODAY.COM  – Kawasan Selat Hormuz kembali memanas seiring langkah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan latihan militer besar-besaran sejak Senin (16/2). Manuver tempur ini disebut sebagai respons langsung terhadap “potensi ancaman keamanan” menyusul kehadiran Gugus Tugas Tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di perairan sekitar kawasan strategis tersebut.

Jenderal Mohammad Pakpour, pimpinan IRGC, menjelaskan bahwa latihan ini dipusatkan di Pulau Abu Musa, titik paling selatan Iran yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional. Fokus utama latihan adalah membangun benteng pertahanan yang mampu beroperasi secara mandiri tanpa dukungan pusat.

“Tujuannya adalah menciptakan benteng yang tangguh di sekitar pulau. Markas unit pasukan tempur di sini diklaim mampu bertahan secara otonom dan dilengkapi rudal dengan jangkauan destruktif hingga 1.000 kilometer,” tegas Pakpour dalam laporannya kepada televisi pemerintah Iran.

Latihan perang ini digelar di saat yang sangat krusial, yakni hanya berselang satu hari sebelum delegasi Iran dan AS dijadwalkan bertemu dalam dialog di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2). Pertemuan yang dimediasi oleh Oman ini merupakan upaya diplomatik perdana setelah eskalasi militer yang melibatkan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa waktu lalu.

Kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal selam dan kapal penjelajah AS di kawasan tersebut direspons dingin oleh militer Iran. Pejabat Angkatan Laut Iran, Mohammad Akbarzadeh, menegaskan bahwa seluruh pergerakan kapal asing berada dalam pengawasan radar dan jangkauan tembak militer Teheran.

BACA JUGA:  Kasad Jenderal Maruli Terima Medali Kehormatan dari Pemerintah Singapura