INDORAYATODAY.COM – Eskalasi di kawasan Timur Tengah kian memanas pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menggugurkan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, mengungkapkan klaim mengejutkan terkait kerugian besar yang diderita pasukan Paman Sam.

Larijani menyatakan bahwa sekitar 500 tentara Amerika Serikat telah tewas sejak Washington secara terbuka bergabung dengan Israel dalam konfrontasi bersenjata melawan Iran yang dimulai pada 27 Februari 2026. Data tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa retorika politik domestik AS kini telah dikalahkan oleh kepentingan zionis.

Dalam pernyataannya, Larijani secara tajam mengkritik Presiden AS Donald Trump. Ia menilai kebijakan luar negeri Trump telah mengkhianati slogan utamanya, yakni “Mengutamakan Amerika” (America First), demi memuaskan ambisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Tuan Trump, yang terpengaruh oleh tingkah konyol Netanyahu, telah menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil dengan Iran,” tegas Larijani sebagaimana dikutip dari media Iran Press TV, Rabu (4/3/2026).

Larijani pun melontarkan pertanyaan retoris kepada publik Amerika terkait jatuhnya ratusan korban jiwa dari pihak militer mereka hanya dalam hitungan hari. “Sekarang dia harus menghitung: dengan lebih dari 500 tentara Amerika tewas, apakah Amerika masih yang utama—atau Israel?” imbuhnya.

Pihak Teheran menegaskan bahwa operasi militer skala besar yang mereka lancarkan merupakan bentuk pembalasan atas gugurnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Iran memandang peristiwa ini bukan sekadar konflik politik, melainkan perjuangan atas nilai-nilai kemartiran yang sakral.

“Kisah ini berlanjut. Kemartiran Imam Khamenei akan menuntut harga yang mahal dari kalian. Insya Allah,” kata Larijani dengan nada penuh keyakinan.

BACA JUGA:  Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Donald Trump Beri Iran Ultimatum 10 Hari

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon belum membenarkan angka korban jiwa yang diklaim oleh Teheran. Dalam keterangan resminya, otoritas Amerika Serikat hanya mengakui adanya empat tentara yang gugur selama peperangan berlangsung.

Ketidaksesuaian data ini menunjukkan adanya “perang urat syaraf” dan disinformasi yang lazim terjadi di tengah berkecamuknya medan tempur.